PTK Lima

IMPLEMENTASI MODUL MODEL SIKLUS BELAJAR

UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA

DI SMA KOSGORO KUNINGAN

ABSTRAK

Model siklus belajar menyarankan agar proses pembelajaran melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif melakukan asimilasi, akomodasi, dan organisasi ke dalam struktur kognitif. Berdasarkan observasi selama proses belajar mengajar berlangsung, tampak siswa belum siap menerima materi baru. Hal ini ditandai siswa cenderung diam dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. Ketika siswa mengemukakan gagasan, belum menunjukkan kelancaran menanggapi masalah dan materi. Keluwesan dan keaslian siswa membuat tanggapan belum tampak dan siswa belum dapat mengidentifikasi konsep yang diperoleh maupun mengintegrasikan dengan konsep terdahulu. Wawancara dengan guru mata pelajaran Fisika diketahui bahwa rerata hasil ujian siswa pada materi sebelumnya masih rendah yaitu 41. Dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa mengemukakan gagasan dan prestasi belajar Fisika, perlu strategi pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kreativitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMA KOSGORO Kuningan pada pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar.

Jenis penelitian merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan sebanyak dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari: (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan tindakan dan observasi, dan (3) Refleksi. Keberhasilan dan kegagalan pada siklus I diidentifikasi, berdasar kekurangan tersebut peneliti melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran siklus II. Instrumen penelitian berupa perangkat pembelajaran, tes, dan pedoman observasi tahapan pembelajaran. Teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan, ketercapaian tahapan pembelajaran dan kreativitas siswa menggunakan prosentase, sedangkan perkembangan prestasi belajar fisika siswa dengan analisis gain score ternormalisasi.

Guru telah melaksanakan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar berdasarkan RPP. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa implementasi modul model siklus belajar memiliki keterlaksanaan 100% dan ketercapaian 95,97%. Kreativitas siswa mengemukakan gagasan semakin meningkat. Peningkatan kreativitas siswa ini dapat dilihat dari kelancaran, keluwesan, keaslian dan keterperincian siswa mengemukakan gagasan dalam pemecahan masalah. Prestasi belajar siswa juga meningkat, yaitu ditinjau dari ulangan harian <g> 0,24 masih dalam kategori rendah sedangkan hasil pre-tes, post-test pada siklus I <g> 0,25 dan pada siklus II <g> 0,28 masih dalam kategori rendah.

Kata Kunci: implementasi modul, kreativitas, prestasi belajar.

Berdasarkan data hasil observasi yang dilaksanakan pada siswa kelas    IX SMA KOSGORO Kuningan sebagai berikut. Pertama, selama proses belajar mengajar berlangsung, siswa cenderung diam dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyan yang diajukan guru, sehingga belum menunjukkan kelancaran siswa mengemukakan gagasan. Kedua, saat praktikum siswa cenderung main-main, tidak terfokus pada pengambilan data dan malas mengisi data hasil praktikum serta tidak mau memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan pada analisis data hasil praktikum, sehingga keaslian siswa membuat tanggapan belum dapat diiden-tifikasi. Ketiga, siswa cenderung menghafalkan satu jawaban yang benar, dan kemampuan siswa maupun guru dalam mencari alternatif jawaban dari masalah masih kurang, sehingga belum tampak keluwesan siswa memikirkan alternatif jawaban yang bervariasi. Keempat, sebagian besar siswa senang saat melakukan praktikum namun belum dapat mengaitkan hasil praktikum dengan materi yang sedang dibahas, menunjukkan bahwa keterperincian siswa mengaitkan konsep satu dengan lainnya perlu dilatih. Kelima, siswa kesulitan memahami konsep-konsep fisika serta kaitannya dengan permasalahan dalam penerapan konsep di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kreativitas siswa mengemukakan gagasan  masih rendah.

Berdasarkan informasi dari guru mata pelajaran fisika kelas IX SMA KOSGORO Kuningan, bahwa pertama, guru masih mengajar menggunakan metode ceramah. Kedua, guru sedang dalam proses menggunakan modul. Kegiatan yang terancang dalam modul belum melibatkan siswa secara aktif dan belum ada perta-nyaan-pertanyaan aplikasi konsep. Ketiga, siswa belum dapat melakukan prak-tikum dengan baik. Keempat, kemampuan kognitif siswa kelas IX masih rendah. Hal ini dilihat dari nilai ulangan harian masih dilakukan ujian remidial karena nilai siswa dirasa masih rendah yaitu memiliki rerata sebesar 41 pada ulangan materi sebelumnya. Dengan demikian, prestasi belajar fisika siswa dalam kategori rendah.

Oleh karena itu, perlu pembelajaran dengan modul model siklus belajar untuk dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa dan kreativitas siswa mengemukakan gagasan. Modul model siklus belajar ini mencakup lima fase yaitu pendahuluan, penggalian, penjelasan, penerapan konsep  dan evaluasi. Hal ini disebabkan melalui modul model siklus belajar, siswa yang telah memiliki kesi-apan dapat mengembangkan pemahamannya terhadap suatu konsep dengan kegi-atan mencoba dan berpikir (hands on activities and minds on activities), sehingga siswa memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian dan keterperincian dalam menge-mukakan gagasan serta dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMA KOSGORO Kuningan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Implementasi Modul Model Siklus Belajar untuk Meningkat-kan Kreativitas dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas SMA KOSGORO KUNINGAN”. Adapun masalah yang akan dibahas adalah: (1) Bagaimanakah peningkatan kreativitas siswa kelas IX SMA KOSGORO Kuningan dengan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar? (2) Bagaimanakah pening-katan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMA KOSGORO Kuningan dengan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar?.

KAJIAN PUSTAKA

Implementasi Modul Model Siklus Belajar (Learning Cycle)

Menurut Russel dalam Setyosari (1990:8) modul adalah suatu unit (satuan) paket pembelajaran yang berkenaan dengan satu satuan konsep tunggal bahan pelajaran. Pengertian modul menurut Associational Communication and Techno-logy (dalam Setyosari, 1990:9) adalah kumpulan pengalaman belajar yang diran-cang untuk mencapai sekelompok tujuan khusus yang saling berkaitan, biasanya terdiri dari beberapa pertemuan.

Secara ringkas, modul adalah suatu paket pengajaran yang memuat satu unit konsep dari bahan pelajaran dan disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas.

Modul Model Siklus Belajar (Learning Cycle)

Modul Model Siklus Belajar yang diimplementasikan ini terdiri atas tiga bagian yaitu: pra pendahuluan, pendahuluan, dan isi/kegiatan belajar (Dasna I, 2005:82).

Fase-fase Siklus Belajar (Learning Cycle)

1.      Fase Pendahuluan (Engagement)

Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian siswa, men-dorong kemampuan berpikir, membantu mereka mengakses pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Timbulnya rasa ingin tahu siswa tentang tema atau topik yang akan dipelajari dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa tentang fakta/fenomena yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. Misalnya dalam mempelajari “Zat dan Wujudnya” guru dapat mulai dengan pertanyaan: “mengapa setelah beberapa hari disimpan di lipatan-lipatan kain, kapur barus itu mengecil?”.

2.      Fase Eksplorasi (Exploration)

Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja baik secara mandiri maupun kelompok tanpa instruksi secara langsung dari guru. Siswa bekerja memanipulasi suatu objek, melakukan percobaan (secara ilmiah), melakukan pengamatan, mengumpulkan data, sampai pada membuat suatu kesimpulan dari percobaan yang dilakukan.

Guru sebagai fasilitator membantu siswa agar bekerja pada ruang lingkup permasalahan (hipotesis yang dibuat sebelumnya). Sesuai dengan teori Piaget, kegiatan eksplorasi siswa diharapkan mengalami ketakseimbangan kognitif .

3.  Fase Penjelasan (Explanation)

Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk melengkapi, menyempurnakan, dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru menjelaskan konsep yang dipahaminya dengan kata-katanya sendiri, menunjukkan contoh-contoh yang berhubungan dengan konsep untuk melengkapi penjelasannya, serta bisa memperkenalkan istilah-istilah baru yang belum diketahui siswa. Pada kegiatan yang berhubungan dengan percobaan, guru dapat memperdalam hubungan antar variable atau kesimpulan yang diperoleh siswa. Sehingga, siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep yang baru diperolehnya.

4.  Fase Penerapan Konsep (Elaboration)

Kegiatan belajar ini mengarahkan siswa menerapkan konsep-konsep yang telah dipahami dan keterampilan yang dimiliki pada situasi baru. Kegiatan fase ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang telah mereka ketahui, sehingga siswa dapat melakukan akomodasi melalui hubungan antar konsep dan pemahaman siswa menjadi lebih mantap.

5.      Fase Evaluasi (Evaluation)

Ada dua hal ingin diketahui pada kegiatan belajar ini yaitu pengalaman belajar yang telah diperoleh siswa dan refleksi untuk melakukan siklus lebih lanjut yaitu untuk pembelajaran pada konsep berikutnya.

Peningkatan Kreativitas

Proses berpikir siswa ada dua cara yaitu berpikir konvergen dan berpikir divergen. Proses berpikir konvergen mengharuskan siswa mencari satu jawaban yang benar, sedangkan proses berpikir divergen mengharuskan siswa menjajaki berbagai kemungkinan jawaban atas suatu masalah. Sehingga perlu adanya keter-paduan antara proses berpikir konvergen dan divergen untuk mewujudkan kreativ-itas siswa. Artinya untuk mengetahui jawaban yang benar siswa perlu menjajaki berbagai kemungkinan.

Menurut Cropley dalam Utami Munandar (1997:9) kemampuan kreatif adalah kemampuan menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif, melihat kombinasi yang tidak diduga dan memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim. Atau dengan kata lain kreativitas siswa adalah kemam-puan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah.

Sedangkan perumusan kesimpulan para ahli mengenai pengertian krea-tivitas (dalam Utami Munandar,1985:47-51) sebagai berikut.

a.       Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada.

b.      Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berda-sarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah  yang penekananya pada ketepatgunaan dan keragaman jawaban.

c.       Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), orisinal dalam berpikir, dan kemampusan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, mem-perinci) suatu gagasan.

Proses kreativitas siswa dalam mengembangkan gagasan dapat dilihat melalui:

a.   Kelancaran, sebagai kemampuan untuk: 1) mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan, 2) memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal, dan 3) selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.

b.      Keluwesan, sebagai kemampuan untuk: 1) menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, 2) dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, 3) mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, dan 4) mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran .

c.       Keaslian, sebagai kemampuan untuk: 1) melahirkan ungkapan yang baru dan unik, 2) memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, dan 3) mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.

d.      Keterperincian, kemampuan untuk dapat mengembangkan suatu gagasan, merincinya sehingga menjadi lebih menarik.

Peningkatan kreativitas yang dimaksud dalam penelitian ini ditekankan pada proses kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan yang mencakup kelancaran, keluwesan, keaslian, keterperincian siswa dalam mengemukakan gagasan terhadap pemecahan masalah.

Peningkatan Prestasi Belajar

Prestasi merupakan suatu hasil dari usaha yang telah dilakukan oleh seseorang. Seseorang dikatakan belajar jika mengalami perubahan tingkah laku. Bloom, dkk dalam Subiyanto (1988:47) mengklasifikasikan tujuan pembelajaran mencakup tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kog-nitif bersangkutan dengan daya pikir, pengetahuan, atau penalaran, ranah afektif bersangkutan dengan perasaan/ kesadaran, dan ranah psikomotorik bersangkutan dengan keterampilan fisik, keterampilan motorik, atau keterampilan tangan.

Peningkatan prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini ditekan-kan pada kenaikan nilai pada ranah kognitif tingkat pengetahuan (C1), pemaham-an (C2) dan penerapan (C3). Indikator prestasi belajar fisika siswa dapat dilihat dari hasil tes secara tertulis.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini  menggunakan pendekatan kualitatif dan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan diadakan peneli-tian tindakan kelas adalah untuk mendapatkan solusi dari permasalahan spesifik di kelas dan untuk mengujicobakan hal-hal baru dalam pembelajaran (Sugiyanto, 2005:56). Penelitian dimulai dengan perencanaan yang meliputi penggandaan modul model siklus belajar, dan penyusunan instrumen penelitian. Pelaksanaan penelitian berupa kegiatan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar di kelas IX SMA KOSGORO Kuningan, observasi lapangan, dan diskusi. Selesai proses belajar mengajar diadakan refleksi dengan guru mata pelajaran guna mengevaluasi yang terkait dengan pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga diharapkan terjadi perbaikan tindakan (replanning).

Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus. Sebelum siklus I dilaksanakan, peneliti melakukan observasi awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran Fisika untuk mengetahui masalah yang terdapat di kelas IX SMA KOSGORO Kuningan. Pembelajaran yang dilakukan adalah implementasi modul model siklus belajar yang diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar fisika siswa. Secara rinci tahap-tahap dalam penelitian ini adalah Gambar 2.1.

Penelitian ini dilakukan dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IX Semester I Tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 33 siswa yang terdiri dari 17 orang laki-laki dan 16 orang perempuan. Peneliti memilih kelas ini secara acak karena di kelas SMA KOSGORO KUNINGAN, semua sama tidak ada kelas unggul-an. Penelitian ini dilaksanakan bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2006.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen yang telah disusun sebelumnya, yaitu skenario pembelajaran, modul model siklus belajar, media pembelajaran, dan pedoman observasi tahapan pembelajaran. Skenario pembelajaran digunakan oleh guru sebagai landasan pelaksanaan pembelajaran. Pedoman observasi tahapan pembelajaran digunakan pada saat pembelajaran berlangsung. Tes diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran. Selain itu juga digunakan lembar observasi, catatan lapangan dan rekaman data serta wawancara yang tak berstruktur untuk mengetahui kondisi siswa, kondisi pembelajaran serta kesulitan-kesulitan yang dihadapai selama proses pembelajaran berlangsung.

Analisis data yang digunakan, yaitu analisis data secara deskriptif kualitatif dan gain score ternormalisasi. Langkah-langkah yang digunakan dalam analisis pelaksanaan tahapan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar adalah sebagai berikut.

a.       Memberikan penilaian terhadap masing-masing aspek tahapan pembelajaran sesuai dengan kriteria.

b.      Menjumlahkan skor untuk masing-masing aspek tahapan pembelajaran.

c.       Mencari rata-rata masing-masing aspek tahapan pembelajaran.

d.      Memprosentasekan skor untuk masing-masing aspek tahapan pembelajaran yang diamati dengan menggunakan rumus. (Arikunto, 2002:246)

Image

Keterangan:

F = Jumlah nilai aspek tahapan pembelajaran yang teramati di lapangan.

N = Jumlah skor aspek tahapan pembelajaran ideal (maksimal).

P = Prosentase keterlaksanaan tahapan pembelajaran.

e.   Membandingkan prosentase keterlaksanaan dan ketercapaian tahapan pembelajaran pada siklus I dengan siklus II.

f.    Mendeskripsikan hasil yang diperoleh untuk mengetahui tingkat keterlaksana-an dan ketercapaian pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar dari siklus I dan siklus II.

Analisis data peningkatan kreativitas dianalisis menggunakan prosentase. Sedangkan peningkatan prestasi belajar fisika siswa dianalisis menggunakan gain score ternormalisasi menurut Hake (dalam Yuliati, 2005: 92) dengan rumus sebagai berikut:<g>Image

Keterangan : <g> adalah gain score ternormalisasi; Sf adalah skor rerata post-test

Si adalah skor rerata pre-test

Menurut Hake (dalam Yuliati, 2005: 92), gain score ternormalisasi <g> merupakan metode yang baik untuk menganalisis hasil pre-test dan post-test. Gain score merupakan indikator yang baik untuk menunjukkan tingkat keefek-tifan pembelajaran yang dilakukan dilihat dari skor pre-test dan post-test. Tingkat perolehan gain score ternormalisasi dikategorikan dalam tiga kategori, yaitu:

g-tinggi ; dengan (<g>) > 0,7

g-sedang          ;  dengan 0,7 (<g>) 0,3

g-rendah          ; dengan (<g>) < 0,3                (Hake dalam Yuliati, 2005)

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Keterlaksanaan dan Ketercapaian Tahapan Pembelajaran Implementasi Modul Model Siklus Belajar

Data ini diperoleh dari lembar observasi tahapan pembelajaran yang dilaksanakan oleh observer bersama peneliti lain pada setiap pertemuan.

Tabel 3.1 Prosentase Keterlaksanaan dan Ketercapaian Tahapan Pembelajaran

Siklus

Pertemuan

Keterlaksanaan (%)

Ketercapaian (%)

Materi

I

II

1

2

1

2

100

100

100

100

80,65

91,94

95,16

95,97

Massa Jenis Zat Padat

Massa Jenis Zat Cair

Wujud Zat dan Perubahannya

Kohesi, Adhesi, Tegangan Permukaan

Berdasarkan data pada Tabel 3.1 di atas, dapat diketahui bahwa prosentase keterlaksanaan tahapan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar mencapai 100 %. Prosentase ketercapaian tahapan pembelajaran pada siklus I pertemuan I mencapai 80,65% dan pertemuan II mencapai 91,94%, sedangkan pada siklus II pertemuan I mencapai 95,16% dan Pertemuan II mencapai 95,97% atau secara keseluruhan meningkat. Ketercapaian tahapan pembelajaran dapat digrafikkan pada Gambar 3.1.

Image

Gambar 3.1 Grafik Ketercapaian Tahapan Pembelajaran yang Mengimplementasikan Modul Model Siklus Belajar

Prosentase keterlaksanaan tahapan pembelajaran mencapai 100%. Semua aspek yang tercantum dalam lembar observasi tahapan pembelajaran teramati selama proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa guru melaksanakan proses pembelajaran dengan baik berdasarkan pedoman yang telah direncanakan dan disusun oleh peneliti. Bahkan guru juga mengembangkan isi pedoman tersebut melalui beberapa pertanyaan guna menumbuhkan keberanian siswa dalam mengemukakan gagasan.

Ketercapaian tahapan pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar semakin meningkat. Ada beberapa hal dilakukan guru pada siklus II sebagai perbaikan proses pembelajaran dari siklus I, yaitu guru memberi kesempatan siswa yang mengacungkan tangan untuk mengemukakan gagasan-gagasannya dan berusaha tidak terfokus pada beberapa orang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kesempatan yang diterima siswa membuat siswa merasa diperhatikan. Guru juga memperhatikan waktu khususnya saat praktikum, sehingga siswa tidak terlalu asyik bermain alat. Dalam hal ini siswa diminta terampil mengoperasikan alat saat perobaan guna mendapatkan data dan menyim-pulkan hasil praktikum. Kemudian guru lebih memahamkan konsep pada siswa saat fase penjelasan agar siswa dapat mengaitkan hasil praktikum dengan konsep materi yang sedang dipelajari, sehingga nilai siswa meningkat.

Hasil Kreativitas Siswa

Data kreativitas siswa sebelum tindakan diperoleh dari hasil tes kreativitas yang diberikan kepada siswa setelah observasi awal. Data kreativitas siswa setelah tindakan diperoleh dari hasil tes kreativitas yang dilakukan di akhir siklus I dan setelah siklus II. Peningkatan kreativitas siswa dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Rerata Nilai Kreativitas Siswa

Siklus

Rerata Nilai Kreativitas

Peningkatan (%)

Awal

I

II

44,73

49,76

61,88

5,03

12,12

Berdasarkan data pada Tabel 3.2, diketahui bahwa peningkatan kreativitas pada observasi awal dibanding akhir siklus I sebesar 5,03 %. Peningkatan kreativitas akhir siklus I dibandingkan akhir siklus II sebesar 12,12 %. Secara keseluruhan rerata nilai kreativitas mengalami peningkatan dari observasi awal sebesar 44,73 menjadi 49,76 pada akhir siklus I dan 61,88 pada akhir siklus II. Secara grafik dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Data kreativitas siswa hasil observasi dilihat dari tingkat kelancaran, keluwesan, keaslian dan keterperincian dalam mengemukakan gagasan selama proses pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar dapat dilihat pada Tabel 3.3. Secara grafik dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Image

Gambar 3.2 Grafik Rerata Nilai Tes Kreativitas Pembelajaran yang Mengimplementasikan Modul Model Siklus Belajar

Data kreativitas siswa hasil observasi dilihat dari tingkat kelancaran, keluwesan, keaslian dan keterperincian dalam mengemukakan gagasan selama proses pembelajaran yang mengimplementasikan modul model siklus belajar dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Kreativitas Siswa Mengemukakan Gagasan

Siklus, Pertemuan

Frekuensi

Materi

Kelancaran

Keluwesan

Keaslian

Keterperincian

I, 1

I, 2

II, 1

II, 2

10

12

20

37

4

6

6

10

4

4

5

8

2

2

5

6

Massa Jenis Zat Padat

Massa Jenis Zat Cair

Wujud Zat dan Perubahannya

Kohesi, Adhesi, Tegangan Permukaan

Menurut Munandar (dalam Kapita Selekta Pembelajaran di SD, 2006:150), bahwa belajar mengajar yang menumbuhkan gagasan kreatif anak dapat dilaksa-nakan melalui penciptaan lingkungan kelas yang merangsang belajar kreatif dan mengajukan pertanyaan. Penciptaan lingkungan kelas yang merangsang belajar kreatif dapat dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut.

1.      Memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang menimbulkan minat dan merangsang rasa ingin tahu siswa. Pertanyaan guru diajukan bersama demon-strasi pada awal pembelajaran (fase pendahuluan).

2.      Pengaturan fisik, misalnya pengaturan tempat duduk sesuai kegiatan-kegiatan siswa. Guru mengelompokkan siswa menjadi delapan kelompok. Siswa duduk berhadapan pada kelompok masing-masing saat praktikum (fase penggalian) dan siswa duduk terfokus menghadap ke depan saat fase pendahuluan, penje-lasan, penerapan konsep, dan evaluasi.

3.      Kesibukan di dalam kelas yang mengasyikkan, misalnya kegiatan praktikum secara kelompok dan pengalaman langsung dengan benda-benda konkrit.

Mengajukan pertanyaan, dalam hal ini guru harus mempunyai keteram-pilan dalam teknik bertanya. Dengan mengajukan beberapa pertanyaan guru diharapkan mendapat informasi yang berharga untuk hal-hal sebagai berikut.

1.      Menimbulkan minat dan motivasi siswa untuk berperan secara aktif. Minat dan motivasi siswa dapat ditimbulkan saat fase pendahuluan melalui beberapa pertanyaan hingga tampak kelancaran siswa mengemukakan gagasan.

2.      Menilai persiapan siswa dan sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya. Persiapan siswa dilihat saat fase pendahuluandengan menanyakan materi minggu sebelumnya dan materi yang akan dibahas.

3.      Mengulang kembali dan merangkum apa yang telah diajarkan. Siswa melalui praktikum pada fase penggalian memperoleh data hingga menarik kesimpulan hasil prakrikum, kemudian konsep siswa disempurnakan oleh guru melalui penjelasan pada fase penggalian.

4.      Membantu siswa melihat hubungan-hubungan baru pada fase. Konsep yang diperoleh siswa diterapkan pada fase penerapan konsep melalui beberapa pertanyaan, sehingga tampak keterperincian siswa mengemukakan gagasan yang berpikir secara integral dengan menghubungkan konsep satu dengan yang lain.

Hasil Prestasi Belajar Fisika Siswa

Data prestasi belajar fisika siswa sebelum tindakan diperoleh dari nilai ulangan harian pokok bahasan Zat dan Wujudnya sebelum diberi tindakan. Prestasi belajar fisika siswa setelah tindakan diperoleh dari nilai ulangan harian pokok bahasan Zat dan Wujudnya setelah diberi tindakan. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar selama proses pelaksanaan tindakan pembelajaran, maka dilaksanakan pre-test dan pos-test tiap pertemuan. Hasil prestasi belajar fisika siswa dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Rerata Nilai Prestasi Belajar Fisika Siswa

Siklus

Rerata Nilai

Gain

Pre-test

Post-test

I

II

Ulangan Harian

40,0

51,0

32,9

55,0

64,8

49,1

0,25

0,28

0,24

Berdasarkan data pada Tabel 3.3, dapat dilihat bahwa nilai ulangan harian pokok bahasan Zat dan Wujudnya diperoleh nilai rerata ulangan harian awal sebesar 32,9 dan nilai rerata ulangan harian akhir sebesar 49,1. Peningkatan prestasi <g> sebesar 0,24. Peningkatan prestasi belajar fisika siswa ini masih tergolong rendah. Secara grafik dilihat pada Gambar 3.4 sebagai berikut.

Image

Gambar 3.3 Grafik Rerata Prestasi Belajar Fisika Siswa pada Pembelajaran yang Mengimplementasikan Modul Model Siklus Belajar

Pada siklus I perolehan rerata nilai pre-test sebesar 40,0 dan rerata nilai post-test sebesar 55,0 dengan peningkatan prestasi belajar <g> sebesar 0,25 dalam kategori rendah. Pada siklus II perolehan rerata nilai pre-test sebesar 51,0 dan rerata nilai post-test sebesar 64,8 dengan peningkatan prestasi belajar <g> sebesar 0,28 dalam kategori rendah.

Peningkatan yang diperoleh pada siklus I dibandingkan dengan siklus II berada dalam kategori rendah. Hal ini terjadi karena saat mengerjakan post-test pada siklus II, siswa ingin tergesa-gesa dalam menyelesaikan permasalahan dan berharap tidak ada post-test pada setiap pertemuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (1999:24), menyatakan bahwa dalam belajar mengajar mengajar fisika tidak akan diperoleh prestasi belajar fisika yang optimal tanpa keterlibatan siswa untuk meningkatkan cara belajar fisikanya melalui tanya jawab dan konsentrasi. Siswa yang kurang konsentrasi dan tergesa-gesa dalam menyele-saikan permasalahan dapat mempengaruhi nilai prestasi belajarnya. Akan tetapi, jika dilihat dari rerata nilai post-test pada siklus II lebih tinggi dibandingkan dengan rerata nilai post-test pada siklus I.

Belajar melalui modul membantu siswa lebih giat untuk mempersiapkan diri belajar di rumah dan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Dalam penelitian Suryaningsih (1999:46), menyim-pulkan bahwa pengajaran dengan menggunakan modul dapat membuat prestasi belajar fisika menjadi lebih baik. Secara umum dapat disimpulkan bahwa imple-mentasi modul model siklus belajar dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian implementasi modul model siklus belajar di kelas IX SMA KOSGORO Kuningan yang dilaksanakan sesuai tahapan pembela-jaran, dapat diambil kesimpulan: (1) Implementasi modul model siklus belajar dapat meningkatkan kreativitas siswa masih dalam kategori rendah, (2) Imple-mentasi modul model siklus belajar dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa masih dalam kategori rendah.

Saran

Berdasarkan kesimpulan, maka sekolah yang memiliki karakter mirip siswa kelas IX SMA KOSGORO Kuningan dapat mengimplementasikan modul model siklus belajar dengan memperhatikan saran sebagai berikut: (1) Bagi Guru bidang studi hendaknya perlu mempertimbangkan waktu pembelajaran yang tepat. Guru harus memiliki keterampilan mengajukan pertanyaan untuk mengembang-kan proses kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan. (2) Bagi Siswa harus memiliki kesiapan menerima materi baru dengan membaca dan mempelajari modul terlebih dahulu di rumah dan pemantapan konsep selama proses pembela-jaran. (3) pembelajaran. Siswa tidak tergesa-gesa dalam mengemukakan pendapat dan mengerjakan tes atau evaluasi. (4) Bagi Peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian serupa dalam pembelajaran Fisika materi pelajaran yang lain dengan memperhatikan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman menarik dan dorongan mengajukan strategi pemecahan masalah.

DAFTAR RUJUKAN

Anggraeni, Wahyu. 1999. Studi tentang faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas I SMU Negeri Tanggul Jember Tahun Ajaran 1998/1999. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FPMIPA IKIP Malang.

Arikunto, suharsimi.2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dasna I, Wayan. 2005. Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Kajian Teoritis dan Implementasinya dalam Pembelajaran Kimia. Malang: Universitas Negeri Malang

Depdikbud. 2003. Penelitian Tindakan (Action Research). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Konsorsium Program PJJ S1 PGSD. 2006. Kapita Selekta Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Munandar, Utami. 1990. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT Gramedia.

Munandar,Utami. 1995. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Setyosari, dkk. 1990. Pengajaran Modul. Malang: Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas IKIP Malang.

Subiyanto. 1988. Evaluasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Depdikbud.

Sugiyanto. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan Fisika. Malang: UM.

Supriyadi. 2003. Kajian Penilaian dan pencapaian Belajar Fisika. Yogyakarta: IMSTEP JICA

Suryaningsih. 1999. Pengaruh Pengajaran Menggunakan Modul Terhadap Prestasi Fisika Siswa Kelas I Cawu II di SMU PGRI Lawang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FPMIPA IKIP Malang.

Yuliati, Lia.2005. Pengembangan Program Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Awal Mengajar Guru Fisika. Disertasi tidak dipublikasikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s