Bila Nilai UN Tinggi, Puaskah Kita?

Oleh Jidi

Mutu pendidikan umumnya masih dipahami sebagai besarnya nilai ujian nasional semata.

Pemahaman ini sepadan dengan ukuran mutu pendidikan kita yang tetap menempatkan nilai UN sebagai indikator utama. Bila nilai hasil UN dan kelulusannya tinggi, sekolah merasa puas. Sebagian sekolah menganggap target berat telah tercapai.

Bahkan, sekolah tertentu mendadak seperti munafik, yang semula mati-matian mengkritik UN ikut-ikutan dalam euforia merayakan hasil UN-nya dengan membentangkan spanduk lebar-lebar.

Berlakulah rumus, sejelek apa pun kinerja sekolah seakan-akan sudah termaafkan dan terpendam dalam-dalam kekurangannya bila nilai UN-nya melangit. Sebaliknya, sebagus apa pun kinerja sekolah seperti tidak bernilai apa-apa karena terlibas hasil UN yang jeblok. Dengan ukuran demikian, seakan-akan matilah sekolah itu.

Sementara masyarakat (wali murid) sebagai pengguna jasa sekolah pada umumnya tidak mau repot asal anak lulus dengan nilai UN tinggi dan dapat melanjutkan studi di sekolah pilihan, apalagi anaknya mampu menembus sekolah yang dianggap unggulan.

Oleh karena itu, gayung bersambut dengan otonomi daerah, Jatim perlu visi bersama yang jelas dan terukur untuk membangun secara utuh mutu pendidikannya. Jika tidak, usaha meningkatkan mutu pendidikan di Jatim akan tetap terjebak pada perdebatan panjang tidak berkesudahan seperti perdebatan tentang pro dan kontra terhadap UN.

Kekukuhan pemerintah pusat untuk tetap memberlakukan UN (bahkan tahun depan juga diberlakukan untuk SD) belum dapat menjadi jaminan kualitas bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di Jatim. Dengan UN, disparitas mutu pendidikan tidak menjadi perhitungan. Sementara yang lain menentang UN karena evaluasi sesaat tersebut dianggap parsial, merugikan siswa, tidak mengembangkan multikecerdasan secara optimal, dan sering menyebabkan stres bukan hanya bagi siswa, tetapi juga guru dan orangtuanya. Padahal keduanya, baik yang pro maupun kontra terhadap UN, sama-sama punya keinginan meningkatkan mutu pendidikan.

Bukan hanya di masyarakat kebanyakan, perbedaan pemahaman terhadap konsep peningkatan mutu pendidikan masih terjadi di kalangan elite. Perihal UN, di Jatim dewan pendidikan dan dinas pendidikan saja masih belum mencapai titik temu. Dengan ekspresi beragam, ada yang saling mengkritik dan menolak, bahkan ada yang terperosok memberi stigma bodoh kepada yang lain.

Di tingkat sekolah, konsep mutu pendidikan dipahami secara berbeda pula. Perbedaan persepsi terhadap konsep mutu itu menjerumuskan sekolah ke penempuhan jalan pintas yang secara tidak disadari justru menggembosi tanggung jawabnya sebagai lembaga pendidikan. Untuk meraih nilai UN yang melejit, misalnya, sekolah membuka pintu lebar-lebar bagi lembaga bimbingan belajar (LBB) untuk masuk dan mengambil porsi besar pembelajaran, terutama ketika siswa memasuki kelas-kelas akhir.

Hal yang berlebihan bila LBB dianggap bukan sekadar the fastest solution dan the king of fastest solution, tetapi sudah menjadi learning revolution, smart solution (Kompas, 4/4), dan sebutan lain yang intinya sama dengan kecap nomor satu. Malah menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jatim (Kompas, 30/3), kerja sama sekolah dengan LBB membawa manfaat bagi pelajar, terutama pada sisi penguasaan strategi penyelesaian soal. Menurut dia, sekolah kekurangan waktu dan sumber daya untuk memberitahukan hal itu kepada pelajar. Bukankah sekolah sudah mengalokasikan waktu belajar yang semakin panjang?

Di sekolah-sekolah favorit, penerjemahan konsep peningkatan mutu pendidikan diaktualisasikan dengan pengetatan seleksi penerimaan siswa baru. Sekolah sejak tahap awal seleksi sangat pilih-pilih siswa. Yang diterima hanya siswa pintar. Motivasinya lagi-lagi keinginan meluluskan siswanya kelak dengan nilai UN selangit. Sekolah seperti ini tidak punya nyali menerima siswa dengan kualitas biasa untuk kemudian dididik dengan cara unggul agar memperoleh hasil unggul. Dengan demikian, ada indikasi kebenaran kata sebagian pengamat bahwa kinerja sekolah favorit pun ibarat masih sebatas mengubah emas menjadi perhiasan, belum mengubah loyang menjadi emas.

Berbagai pernik pilu hingga kritik akurat seputar UN setidaknya cukup untuk memberikan inspirasi pada Jatim khususnya untuk mengatur langkah pembenahan utuh terhadap sistem pendidikannya. Bukan kemaruk dengan otonomi daerah, tetapi lebih pada semangat perbaikan mutu pendidikan. Sederhana saja, yang lebih tahu seluk-beluk dan keunikan Jatim adalah orang Jatim. Langkah tersebut bukan penentangan terhadap pemerintah pusat asal pemerintah pusat betul-betul memiliki good will dan secara proporsional membuat kebijakan-kebijakan besarnya saja, tidak sampai pada tataran teknis ujian akhir sekolah karena pengaturan hingga sekecil-kecilnya dari pusat tidak selalu relevan dengan apa yang idealnya diterapkan di daerah, apalagi di sekolah. Dengan potensi besarnya, Jatim perlu tampil ke depan untuk merumuskan alternatif sebagai tali kompromi yang strategis untuk menyinergikan kembali pemikiran-pemikiran cerdas, baik yang pro maupun kontra terhadap UN.

Langkah tersebut sekaligus menjadi sarana merevitalisasi pendidikan kita yang berbasis kompetensi. Bukan saja kompetensi siswa, tetapi juga kompetensi daerah yang senantiasa mengakomodasi keunggulan dan keunikan masing-masing seperti semangat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan kita. Dari sana justru akan muncul inovasi-inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan daerah. Belajar akan jadi menyenangkan.

Yang diharapkan siswa, orangtua, maupun gurunya akan lebih tenang, tidak kena teror psikologis yang terjadi tiap tahun. Bila ujiannya integral, kelak petugas ujian cukup guru karena guru paling tahu perkembangan belajar siswanya. Tidak perlu melibatkan petugas keamanan dalam pengawalan soal yang membuat ujian semakin angker dan mencekam.

Masihkan nilai UN diidentikkan dengan mutu pendidikan? Bila nilai UN tinggi, sudah puaskah kita?

Jidi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lembaga Pendidikan Al Falah, Surabaya

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s