KEPEMIMPINAN, KEBERANIAN DAN PERUBAHAN

 

Tuhan memberikan kekuatan untuk menerima yang tidak bisa kita ubah. Keberanian untuk mengubah yang memungkinkan. Dan kebijaksanaan untuk memahami perbedaan keduanya.

-Frederich Oetinger-

Di Turki ada peninggalan Kerajaan Ottoman (Sultan Ahmet I) yang sangat terkenal, yaitu Masjid Biru (dibangun pada tahun 1603-1617). Ada cerita seru di balik pembangunannya.

Sultan Ahmet memerintah dengan segala keterbatasan. Keuangan negara tidak begitu kuat, tetapi ia punya niat tulus membangun negaranya. Ia juga tak segan-segan mengganti anggota kabinetnya yang dianggap tidak becus. Suatu ketika ia memanggil pembantunya, yaitu arsitek Sedefkar Mehmet Aga untuk membangun masjid yang seluruhnya dibuat dari emas.

Aga tentu pusing karena uangnya tidak cukup. Lagi pula, Sultan sudah sangat sibuk mengurusi banyak persoalan sehingga kurang waktu untuk berdialog. Dilema bagi Aga, jika tugas itu meleset, bukan cuma jabatan yang akan jadi taruhan, tetapi juga kepalanya.

Namun, ia menemukan solusi kreatif. Masjid itu dibangun dengan enam menara. Kebetulan bunyi kata enam dalam bahasa setempat agak mirip dengan bunyi kata emas, yaitu alti versus altin. Ketika bangunan jadi, Sultan pun menanyakan hal itu kepada Aga. Dengan senyum, Aga menjelaskan, Sultan memerintahkan membangun dengan enam menara (alti), bukan dengan altin. Sultan pun manggut-manggut dan Aga tak jadi diganti.

Selubung citra

Setiap kali seorang pemimpin akan merombak tim kerjanya, kepusingan pun selalu muncul. Tak terkecuali Sultan Ahmet I dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjanjikan perubahan. Perubahan itu adalah teater kepedihan, sakit karena berkorban.

Presiden Yudhoyono pun harus rela sakit mengorbankan para menterinya yang dinilai publik buruk kinerjanya kendati partai pengusung tak menerimanya. Perubahan terjadi kala pemimpin dan rakyatnya bergerak.

Orang akan bergerak karena dua hal: mereka kesakitan atau mereka melihat cahaya. Cahaya itu adalah harapan, dan ketika hari-hari gelap itu dilewati rakyat dengan harga kebutuhan pokok yang tinggi, serta sulitnya memperoleh pekerjaan, perombakan kabinet dapat dijadikan momentum untuk menumbuhkan harapan-harapan baru. Namun, harapan-harapan itu bisa tidak menjadi kenyataan.

Ada dua persoalan di sini. Pertama, kita hidup di era pencitraan dan, kedua, orang-orang yang kualitas kepemimpinannya lemah akan memainkan kartu leading up (memimpin ke atas), ketimbang leading down (memimpin melalui jajaran birokrasinya), atau leading across (membangun koalisi kerja pada jajaran kolega).

Melalui kekuatan pencitraan, orang-orang yang bermasalah dapat dipoles menjadi baik di mata atasannya. Lihatlah, para menteri yang beriklan dan menjadikan dirinya sendiri sebagai bintang iklannya. Iklan itu marak diputar saat mereka menduga perombakan kabinet akan segera terjadi. Secara hipotetikal, diduga semakin lemah kinerja dan terancam posisinya, akan semakin besar pula upaya pencitraannya.

Yang kedua adalah soal kepemimpinan. Ini adalah sebuah pisau bermata tiga: leading up, leading down, dan leading across. Seorang menteri yang efektif adalah pemimpin yang didukung kuat atasannya, memiliki pengaruh ke bawah, dan mampu melakukan koalisi kerja dengan kolega-koleganya. Namun, tidak semua orang memiliki ketiganya.

Ada menteri yang hubungan ke atasnya sangat baik, tetapi pengaruhnya pada jajaran birokrasi dan masyarakat sangat buruk sehingga kepemimpinannya tidak efektif. Mereka cenderung sibuk sendiri, tetapi karena hubungan ke atasnya baik, mereka dapat diprediksi aman, kendati rakyat menilai kinerjanya buruk.

Saat ini hubungan ke samping departemen-departemen sangat lemah. Jangan tanyakan kepada para menteri koordinator, tetapi tanyakanlah kepada para pelaku usaha. Di situ tampak jelas tak ada kepemimpinan yang memadai. Akibatnya, pemerintahan menjadi tidak efektif.

Misalnya saja, Indonesia seharusnya bisa berpromosi dengan lebih baik di luar negeri dengan anggaran yang lebih besar, tetapi hal ini tidak terjadi. Semua departemen teknis dan badan pemerintah menggunakan cara sendiri-sendiri dengan anggarannya. Semua punya pos yang sama, tetapi tak ada keterkaitan dan koordinasi.

Hal ini juga terasa dalam hubungan ke samping antarkabupaten dalam satu provinsi yang sama. Spirit saling melengkapi dalam membangun infrastruktur tidak terfasilitasi dengan baik. Dengan demikian, dua kabupaten yang berdekatan memiliki anggaran yang sama untuk membangun bandara atau lapangan golf kelas dunia.

Mamalia yang baik hati

Dalam menggerakkan perubahan setiap orang punya cara berbeda-beda. Ada yang memilih cara mamalia, ada pula yang memilih gaya reptilia. Pemimpin ala mamalia dapat diibaratkan sebagai pemimpin lumba-lumba yang bersahabat, guyub (berkelompok), dan lihat kiri kanan.

Pemimpin tipe ini enak ditonton karena lucu dan seakan-akan menjanjikan sesuatu. Namun, sebenarnya pemimpin tipe ini hanya datang untuk menghibur, bukan untuk melakukan sesuatu. Ia juga khawatir diasingkan, tidak senang menyerang dan ragu-ragu untuk membersihkan teman-temannya yang tidak berkinerja baik. Ia lebih memilih kawan daripada kinerja.

Berbeda dengan tipe reptilia yang agresif, tegas, fokus, analitikal, tidak merasa perlu berkelompok, tetapi berani berkorban. Dari kuesioner yang sering saya bagi-bagikan dalam berbagai kesempatan, ternyata rata-rata orang Indonesia tipe pemimpin mamalia.

Namun, secara teoretis, menghadapi perubahan, kepemimpinan seperti ini kurang efektif. Ini berbeda dengan pemimpin reptilia yang punya keberanian menerobos, dan tidak lihat kiri kanan. Susahnya, pemimpin reptilia cenderung tidak digemari masyarakat sebelum ia menunjukkan kinerjanya.

Dengan dukungan 60 persen suara, Presiden sebenarnya punya energi yang sangat besar untuk membuka pintu terowongan yang terkunci di ujung sana. Cek yang dipegang bukanlah cek kosong, melainkan sebuah mandat yang tuntutannya bukan kepemimpinan mamalia dan juga bukan reptilia. Tuntutan itu bukanlah memberi janji, tetapi pengorbanan. Sebab, esensi dari perubahan itu memang memerlukan rasa takut dan rasa sakit. Ini lebih baik daripada tidak ada kemajuan sama sekali.

Sultan Ahmet I juga tidak bermutasi menjadi pemimpin reptilia dengan memenggal leher arsitek. Mahasiswa saya menyebut kombinasi DNA kepemimpinan itu sebagai mamal-reptil. Ia berhati lembut, tetapi berkulit keras. Tidak mudah tersinggung, tetapi berani mengatakan tidak. Punya banyak dukungan, tetapi bersedia memimpin dalam kesendirian. Ia berani memangkas kendati orang itu teman-temannya sendiri.

Demikianlah Sultan Ahmet I. Ia melakukan perombakan dengan penuh keberanian, tetapi tetap bersikap terbuka terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Meski penasihatnya memberi masukan agar Mehmet Aga dihukum karena masjidnya bukan terbuat dari emas, Sultan tetap bisa merasakan keindahan.

Ia melihat dengan tajam, tetapi tetap berlaku bijak. Terlebih dari itu, Sultan pun mengakui, kesalahan tidak melulu berada di luar sana, melainkan ada pula di dalam pikirannya. Ia melakukan introspeksi dan menemukan bahwa ketegasan sesungguhnya belum ada pada dirinya, pada saat ia menyebut kata altin (emas) yang barangkali terdengar alti (enam).

Sumber : www.kompas.com

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s