KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN

1. Kalau kita ingin mengetahui apa istilah Islam untuk istilah teknis kepemimpinan dan manajemen dalam arti modernnya yang diperluas, kita sebut saja irsyad (petunjuk, pimpinan, arah) dan rusyd (kematangan), atau hidayah (petunjuk) dan rusyd. Menurut terminologi Islam, kemampuan memimpin disebut hidayah dan irsyad, dan kemampuan mengelola sama dengan apa yang disebut rusyd dalam yurisprudensi Islam (fiqih).

Dalam bahasa biasa dan bahasa Persia sehari-hari, rusyd adalah kualitas fisis yang berkaitan dengan tubuh, namun sebagai sebuah istilah fiqih, rusyd adalah kualitas yang berkaitan dengan perkembangan mental. Artinya adalah kematangan untuk memahami, bukan kematangan fisis. Bila seorang anak telah mencapai kematangan ini, maka dia pun memiliki kualitas ini. Para faqih mengatakan bahwa kematangan fisis belum cukup untuk berakad nikah. Untuk berakad nikah juga diperlukan kematangan mental. Dalam pengertian ini, arti rusyd adalah dapat membeda-bedakan dan memiliki akal sehat dan mampu memanfaatkan dan memelihara sarana hidup.

2. Poin kedua adalah petunjuk manusia memiliki dua segi: yang satu tak berubah, dan yang satunya lagi berubah. Ketika membahas Islam dan Tuntutan Zaman, kami sebutkan bahwa dalam kehidupan manusia ada beberapa segi yang tak berubah yang bekerja dalam struktur yang tak berubah. Segi-segi ini diekspresikan oleh prinsip moral dan hukum Islam. Dengan kata lain, orbit kehidupan manusia tidak berubah, sedangkan tahap-tahapnya berubah. Petunjuk dan kepemimpinan para nabi tergolong yang orbitnya tidak berubah, sedangkan petunjuk dan kepemimpinan manusia biasa bekerja di dalam masalah-masalah tertentu dan detail-detail yang bisa berubah. Misal, Al-Qur’an memberikan perintah untuk berjihad. Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada siapa dan kapan jihad harus dilakukan, dan apa syarat untuk berdamai. Petunjuk dan arahan seperti ini diberikan oleh para nabi. Namun kapan, dengan komando siapa dan dengan perlengkapan seperti apa tentara bergerak, merupakan masalah detail. Ini berkaitan dengan gerakan di dalam orbit yang tak berubah.

3.  Telah kami sebutkan bahwa kata “wali” sinonim dengan pemimpin. Bisa saja orang mengatakan bahwa arti hidayah adalah petunjuk, bukan kepemimpinan. Dalam petunjuk ada segi perintah, pencerahan, arahan, pendidikan dan pengetahuan, sedangkan kepemimpinan mengandung arti mobilisasi di jalan tertentu. Konsepsi kepemimpinan meliputi tindakan seperti merumuskan gagasan, memobilisasi kekuatan, mengorganisasikan orang dan meluncurkan gerakan.

Jawaban kami adalah memang benar bahwa kata hidayah mengandung arti petunjuk. Kata ini juga digunakan dalam pengertian kepemimpinan. Bukan saja itu, kata ini digunakan pula dalam pengertian memandu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Barangkali kata siyadah, qiyadah dan imamah lebih mengandung arti kepemimpinan.

4. Ada satu lagi masalah. Yaitu masalah perlunya kepemimpinan dan pemimpin. Poin sangat penting ini merupakan basis dari ajaran para nabi. Dalam ajaran Syiah, imamah didasarkan pada selalu diperlukannya eksistensi seseorang yang maksum.

5. Masalah lainnya yaitu masalah kondisi, sarana dan prinsip kepemimpinan.

6. Selanjutnya adalah masalah tujuan kepemimpinan.

7. Masalah jenis kepemimpinan.

8. “Pemimpin perlu benar-benar mengetahui karakter manusia, begitu pula siapa pun yang bekerja dengan orang lain pada tingkat apa pun, entah di rumah, di sekolah, di pabrik atau di organisasi lain.” (Pengantar Kepemimpinan, hal. 25)

9.Telah kami kutip sebuah hadis termasyhur mengenai bepergian. Nabi saw bersabda bahwa jika dua (atau tiga) orang bepergian bersama-sama, maka mereka supaya memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pemimpin dan manajer mereka. Hadis ini menunjukkan betapa Islam memandang sangat penting kepemimpinan dan disiplin.

10.Hubungan antara kepemimpinan di satu pihak dan organisasi serta disiplin di pihak lain.

11.Kepemimpinan merupakan seni yang dapat dipelajari seperti seni lainnya.

12.”Perilaku manusia ada hukum atau mekanismenya sendiri. Setiap aksi melahirkan reaksi. Kalau kita ingin bekerja enak dengan
orang lain, kita perlu tahu hukum dan mekanisme yang mengatur perilakunya. Manusia bagaikan kotak misteri, untuk membuka kotak ini perlu adanya kunci khusus. Kerja sama dengannya dapat dilakukan dengan pengetahuan dan sikap baik, bukan dengan tekanan atau paksaan. Hukum perilaku manusia bukan untuk dirumuskan, melainkan untuk ditemukan seperti hukum fisika, kimia dan fisiologi. Norma dan aturan yang dibuat untuk memandu perilaku manusia akan diterima dengan baik kalau selaras dengan hukum fitrah dan perilaku manusia.” (Pengantar Kepemimpinan, hal. 25)

Buku ini juga mengutip seorang pejabat tinggi sekretariat yang mengatakan, “Perlengkapan kantor kami sudah dimodernisasi, namun sayang pegawai-pegawai kami biasa-biasa saja.”

13. Referensi no. 4 dan 11: “Dewasa ini kebutuhan akan ke­ pemimpinan dibahas ketika membahas manajemen. Manajemen industri, manajemen komersial, manajemen teknik dan manajemen administrasi semuanya mungkin digolongkan sebagai ilrriu-ilmu administrasi. Zaman kita adalah zaman administrasi dan manajemen.” (Pengantar Kepemimpinan, hal. 35)

14. “Jangan melewati fase ini bila tidak ditemani seorang Khizir (pemandu sejati). Ini merupakan tempat yang gelap. Awas, jangan sampai tersesat.”

15. “Orang yang tidak mendapat bimbingan dari orang arif dan tidak mendapat dukungan dari orang lemah pasti akan binasa.”

16. Penyair Persia termasyhur, Hafiz, berkata, “Kalau tidak tahu, cobalah belajar. Kalau tak bisa jalan sendiri, mana mungkin memimpin orang?”

17. Menguraikan persyaratan untuk jadi pemimpin, Plato mengatakan bahwa raja haruslah seorang filosof. Keunggulan filosof harus dipadu dengan kebesaran raja.

18. Syarat Kepemimpinan: “Pemimpin harus mampu berperan kreatif dalam: (i) mengorganisasikan berbagai kekuatan manusia;
(ii) memanfaatkan kekuatan-kekuatan itu untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik tujuan individu maupun tujuan bersama.” (Pengantar Kepemimpinan, hal. 45)

19. Ayat berikut ini dengan jelas menunjukkan kepemimpinan aktif dan reformatif Nabi Muhammad saw:

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan din dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian bila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orangyang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 159)

20. Peristiwa Abu Lubabah serta tobatnya, dan peristiwa tiga orang yang ketinggalan ketika Perang Tabuk dan kemudian dikucilkan dengan perintah Nabi saw. Mereka kemudian berlindung
di bukit.

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobat mereka. Sesungguhnya Allah lah YangMaha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taubah: 118)

Peristiwa Sa’ad bin Rabi’, Abu Dzar dan Abdullah bin Jumu’ merupakan contoh unik tentang keberhasilan membentuk kerja sama umum dan tentang pelaksanaan urusan dan hubungan publik.

21. Salah satu syarat pemimpin adalah memiliki jiwa kerja sama dan bepartisipasi praktis dalam upaya umum. Juga harus berinisiatif. Praktik lebih penting daripada teori.

22. Mengenai pentingnya tindakan yang tepat di waktu yang tepat, “PengantarKepemimpinan” menyebutkan, “Dalam kepemimpinan peran mendasar dimainkan oleh sembilan faktor. Menghargai waktu sangat diperlukan bagi suksesnya kepemimpinan.”

23. Nabi saw adalah pembawa risalah ilahiah dan pemimpin gerakan ilahiah. Dalam Islam, Imam Husain as, putra Imam Ali as, adalah pemimpin gerakan revolusioner. Nabi saw bertugas membangunkan masyarakat yang tidur, sedangkan Imam Husain as bangkit untuk mengembalikan masyarakat yang sesat ke jalan yang benar. Keduanya memperlihatkan kualitas-kualitas kepemimpinan yang tinggi. Nabi saw adalah pemimpin yang memiliki misi, pesan dan ideologi. Nabi mengorganisasikan kekuatan-kekuatan penting dan memobilisasinya. Nabi saw menyampaikan pesan Allah SWT kepada umat manusia dan menghancurkan belenggu-elenggu
ideologi dan sosial mereka. Imam Husain as melakukan revolusi suci melawan kemunafikan dan kepalsuan, dan memandu gerakan reformasi untuk beramar makruf bernahi munkar.

24. Mengenai no. 22—Ali dan penghargaan terhadap waktu—Menjawab Abu Sofyan, Imam Ali as berkata, “Sukseslah orang yang kalau tidak bangkit dengan gerakan, dia mundur dan santai. Air ini sudah tercemar. Makanan ringan mencekik kerongkongan pemakannya. Orang yang memetik buah sebelum buah itu masak,
seperti orang yang menabur benih di tanah yang bukan miliknya.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 5)

25. Percaya diri merupakan salah satu kualitas penting pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin harus yakin dengan kesuksesannya. Nabi saw pada masa awal kerasulannya biasa bicara tentang akan tunduknya bangsa Rum dan Iran. Pada masa itu kaum Quraisy dan Bani Hasyim menertawakannya.

Rasul percaya pada apa yang diwahyukan kepadanya dari Tuhannya. (QS. al-Baqarah: 285)

Yang diwahyukan antara lain ayat ini:

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. (QS. al-Fath: 28)

Imam Husain as sepenuhnya percaya dengan hasil perlawanannya. Dia berkata kepada Abu Hirrah atau orang lain bahwa lawan-lawannya akan membunuh dirinya, namun setelah itu mereka akan mendapat aib. Pada hari Asyura (10 Muharram) dia mengatakan kepada sahabat-sahabatnya dan juga anggota keluarganya, “Catatiah bahwa hanya Allahlah pelindung dan penyelamatmu.”

26. Mengenai kualitas-kualitas penting pemimpin, lihat catatan[1] mengenai kualitas-kualitas pembaru, khususnya lihat kata-kata Imam Ali as: Tak ada yang dapat melaksanakan perintah Allah SWT kecuali orang yang tidak mengorbankan prinsip, maka dia bukan contoh keburukan moral dan bukan serakah.” (Nahj al-Balâghah, sabda 109)

Sejumlah kualitas positif dan negatif pemimpin telah disebutkan dalam “Pengantar Kepemimpinan”, halaman 66. Kualitas positif tersebut antara lain cepat dan tepat dalam menilai situasi, cepat dan teguh dalam keputusan, cepat dan berani dalam bertindak, tahu harus bagaimana kalau menemui kegagalan, siap menghadapi kritik, toleran terhadap pandangan lain, berani bertanggung jawab dan menerima konsekuensi kalau menemui kegagalan, memberikan wewenang sesuai dengan kemampuan, mampu mengorganisasi, berkeinginan untuk mendapatkan informasi terbaru yang relevan dengan fungsinya, keras namun tidak kaku, bermartabat namun bersahaja, memberikan semangat kepada yang dipimpinnya dan memajukan kemampuan mereka, memperhatikan problem emosional orang seorang dan merasa senang kalau mereka sukses. (Sebagian poin ini merupakan tugas pemimpin yang baik, bukan kualitas esensialnya).

Kualitas negatif pembaru adalah kurang percaya diri, berubah-ubah keputusan, takut menghadapi konsekuensi, kebingungan ketika menghadapi perkembangan yang tak terduga, tidak dapat menerima kritik dan pandangan yang berbeda, tidak tabah dalam mendapatkan hasil, terobsesi untuk jadi pemimpin, menuntut kepatuhan buta dari setiap orang, memuji diri sendiri, tidak ramah, dengannya. Imam Ali as berkata bahwa seorang pemimpin tidak boleh menjadi contoh kerusakan moral bagi rakyatnya. “Dia tidak boleh seperti orang bejat moral yang menyuruh orang untuk takwa, atau tidak boleh seperti dokter sakit-sakitan yang mengobati orang.” Mana mungkin orang yang suka makan kurma melarang orang makan kurma. “Orang yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin, harus memulai pembaruan pada dirinya sendiri…” Seorang pemimpin tidak boleh pelit dan serakah, karena kepelitan dan keserakahan berarti perbudakan abadi, sedangkan perbudakan bertentangan dengan kemerdekaan spiritual dan moral. Mengenai Kristus, Imam Ali as berkata, “Dia tidak beristri sehingga tak ada yang menggodanya, tak beranak sehingga tak ada yang membuatnya bersedih hati, tak berharta sehingga tak ada yang mengganggu perhatiannya, dan tak mempunyai nafsu besar sehingga tak ada yang merusak martabatnya.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 160) Ringkas kata, orang yang bermoral materialis tidak mungkin menjadi pembaru sejati, dan secara moral filosof materialis tak mungkin menjadi non-materialis seratus persen. Kualitas lain seorang pembaru: Sensitif namun tenang. Contoh ketenangan adalah perilaku Imam Ali as. Seorang wanita dari Basrah dan seorang Khawarij pernah memaki Imam Ali as, namun Imam Ali as tak menaruh perhatian pada kata-kata kotor mereka. Seorang pembaru haruslah berbaju besi. Dia tidak boleh lembek, meski harus sensitif. Contoh tentang sensitif namun tidak lembek adalah kisah tentang Sufyan Ghamidi yang tiba di Anbar. “Jika sejak itu ada seorang Muslim yang mati karena menderita… Mungkinkah aku tenang-tenang saja semalaman dengan perut kenyang, padahal di sekitarku banyak perut yang kelaparan?” malas belajar dan malas mencari informasi, tidak senang kalau orang lain sukses, dan tak mau tahu dengan kebutuhan manusiawi dan emosional orang.

Orang yang tak memiliki kualitas-kualitas positif tersebut di atas, maka dia tak akan dapat mengorganisasi dan memobilisasi kekuatan-kekuatan luar biasa manusia untuk tujuan konstruktif. Orang yang ingin jadi pemimpin, supaya terlebih dahulu dia menilai kualitas positif dan negatifhya.

Gaya Kepemimpinan

27. Gaya kepemimpinan bisa lalim, diktator, atau seratus persen individualistik. Juga bisa terbuka, mau kerja sama, dan berdasarkan pikiran sehat.

Orang biasa yang cenderung individualistik dan lalim, tentu akan memerintahkan pengikutnya untuk mengikuti hukum dan kebijakannya. Orang seperti ini tak mau tahu dengan pendapat orang lain. Dia menyemangati dan mencaci pengikutnya ber­dasarkan keputusan dan perasaan pribadinya sendiri. Menurut “Pengantar Kepemimpinan”, orang seperti itu adalah orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin.

Pemimpin yang mau terbuka selalu menemukan solusi untuk problem yang dihadapi melalui sumbang pikir dari pengikutnya. Pemimpin seperti ini, menurut buku yang sama, populer dan demokratis. Pemimpin yang mau bermusyawarah dengan pengikut­nya dan memandang penting sumbang pikir pengikutnya, juga menyemangati pengikutnya untuk mengikutinya dengan sukarela. Dan pengikut pemimpin seperti ini akan mau bekerja sama sepenuh had dengan pemimpinnya.

“Gaya pemimpin beda dengan maksud dan tujuannya. Bisa saja maksud dan tujuannya mulia, namun gaya kepemimpinannya lalim dan tidak baik. Juga bisa saja maksud dan tujuannya tidak baik, namun metode yang digunakannya untuk mencapai maksud dan tujuannya itu demokratis.” (halaman 80)

28. Ada pembahasan lain yang menarik dan bermanfaat dalam “Pengantar Kepemimpinan”. “Sebagian pemimpin memberikan perhatian khusus kepada maksud dan tujuan mereka, dan hampir tak memperhatikan pengikut mereka. Kebijakan sebagian pemimpin lainnya bertentangan sekali dengan itu. Yang jadi perhatian kelompok pertama adalah hasil yang diinginkan saja. Kelompok pertama ini tidak memberikan perhatian kepada keinginan orang seorang, kerinduan emosi dan aspirasi khusus pengikut mereka. Bukan saja itu. Terkadang perlakuan mereka terhadap pengikut mereka buruk. Kelompok kedua beranggapan bahwa dicintai pengikut lebih penting dibanding apa pun. Dan karena demi menyenangkan hati pengikut, di tengah jalan kelompok ini sering menyimpang dari tujuan pokok. Salah satu tugas pokok pemimpin yang baik adalah menjaga keseimbangan antara dua kecenderungan ini. Pemimpin akan sukses kalau dia menemukan solusi untuk problem ini.” (halaman 81)

29. Di bawah judul “Kemakmuran dan Kebahagiqan—Dambaan Setiap Manusia”, buku ini melakukan interpretasi yang tidak tepat mengenai kunci sukses pemimpin-pemimpin besar. Katanya, “Semua orang tentu saja selalu mengharapkan saat-saat yang lebih baik, yaitu saat-saat mereka dapat memperoleh apa yang disukai hati mereka, saat-saat tak adanya penindasan dan tirani, korupsi dan kemiskinan, kesedihan dan penyakit. Untuk apa pemberontakan, revolusi, kerinduan, harapan, kekesalan hati, kehebohan, kegembiraan, penantian dan penderitaan? Bukan semua itu untuk keadaan yang lebih baik, saat-saat yang lebih makmur dan masa depan yang lebih bermartabat?” (halaman 86).

Penulis tidak menjelaskan apa: yang dimaksud dengan saat-saat yang lebih baik itu. Apakah maksudnya adalah masa ketika semua orang dapat mencari nafkah dengan lebih baik, atau apakah dia percaya bahwa di kedalaman jiwa manusia ada ideal yang lebih tinggi, yang untuk mewujudkan ideal ini manusia selalu, sadar atau tidak, melakukan upaya keras? Ataukah manusia hanya berkutat di seputar rod dan mentega?

Membahas kecenderungan manusia untuk mencari pemimpin dan juru selamat, untuk memuji dan mengagumi pemimpin dan juru selamat, dan untuk memuja pahlawan, penulis mengatakan, “Yang biasanya membuat manusia cenderung mencari pemimpin adalah keinginannya untuk hidup makmur dan bahagia. Untuk tujuan inilah manusia berupaya menemukan pemimpin yang sebaik mungkin, dan bila dirasa sudah menemukannya, manusia lalu mengagumi dan memujinya.”

Penulis percaya bahwa memuja pahlawan terjadi karena keinginan manusia untuk mendapatkan juru selamat. Menurut penulis, manusia menyanjung pahlawan sebagai sarana untuk hidup lebih enak. Namun poin ini dapat diperdebatkan. Memuja pahlawan beda dengan memuji dan mengagumi pahlawan. Orang yang memuja pahlawan siap sedia mengorbankan dirinya demi pahlawan yang dipujanya. Dia bukan sekadar menyukainya sebagai sarana untuk bisa hidup makmur dan bahagia. Penyebab kekeliruan penulis adalah penulis tidak memberikan perhatian yang semestinya tentang arti memuja, atau dia tidak memandang cukup penting hal itu.

30. Al-Qur’an mengatakan yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berftrman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia. “Ibrahim berkata: “(Dan aku mohon juga) dari keturunanku. “Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orangyang zalim.” (QS. al-Baqarah: 124)

Ayat ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan dan manajemen manusia. Nabi Ibrahim as menghadapi banyak ujian karena imannya. Dia dibakar. Dia sendirian harus menghadapi kaumnya. Dia hancurkan berhala-berhala, dan bahkan sampai nyaris menyembelih putranya sendiri. Setelah berhasil melalui semua ujian ini, Allah SWT mengangkatnya menjadi Imam. Dari sini mudah dilihat luar biasa pentingnya kepemimpinan itu. Sebuah hadis mengatakan, “Allah mengangkat Ibrahim menjadi Nabi sebelum Dia mengangkat­nya menjadi Rasul-Nya. Allah mengangkatnya menjadi Rasul-Nya sebelum Dia mengangkatnya menjadi Sahabat-Nya. Allah mengangkat­nya menjadi Sahabat-Nya sebelum Dia mengangkatnya menjadi Imam.”

Ada sebuah hadis Nabi saw yang termasyhur. Hadis ini mengata­kan, “Jika lebih dari dua orang bepergian, hendaknya mereka memilih salah satunya menjadi pemimpin mereka.” Hadis ini menunjukkan betapa Islam memandang penting organisasi, manajemen dan kepemimpinan.

Sesungguhnya, dari sudut pandang kehidupan sosial dan kehidupan moral serta spiritual, memobilisasi kekuatan manusia yang potensial dan memandu manusia di jalan kesempurnaan merupakan tugas sangat mulia dan sangat sulit. Itulah sebabnya mengapa tak ada orang yang patut menjadi pemimpin sempurna selain orang-orang seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as (‘alaihimussalam).

31. Kami sebutkan bahwa arti kematangan adalah kemampuan memanfaatkan dan mengelola aset serta sarana hidup, dan memeliharanya. Kini kami katakan bahwa aset paling penting adalah aset manusia, sedangkan kematangan yang paling penting dan paling asasiah adalah kemampuan manusia mengeksploitasi dengan benar dan memelihara sumber daya moral dan personalnya sendiri. Itulah sebabnya kenapa Nabi Ibrahim as memohon kepada Allah SWT agar mengangkat sebagian keturunannya untuk juga menjadi imam dan pemimpin. Allah SWT berfirman:

Perjanjian-Ku tidak mengenai orang yang zalim. (QS. al-Baqarah: 124)

Dengan kata lain, mereka yang tidak memiliki kematangan individual dan personal, yaitu mereka yang tidak memiliki ke­matangan manusiawi dan moral, tak akan menjadi pemimpin. Barangsiapa yang dirinya bukan manusia, tak mungkin dapat mendidik manusia dan mengembangkan kualitasnya. (Seperti tanaman yang menumbuhkan cabang-cabangnya).

Mengelola sumber daya manusia, mengeksploitasi dan memanfaatkannya, memberinya motivasi dan memobilisasinya, berarti menghancurkan belenggu moral dan belenggu spiritual manusia:

Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (QS. al-A’râf: 157)

Kematangan inilah yang dewasa ini disebut manajemen atau kepemimpinan. Mengenai kematangan individual, perlu dijelaskan bahwa kemampuan mental dan pikiran manusia merupakan salah satu asetnya. Kemampuan ini perlu dikelola dengan baik sehingga termanfaatkan dengan baik. Misal, ada daya ingat. Bagaimana memanfaatkannya? Sebagian orang mengira bahwa memiliki daya ingat yang kuat dan baik sudah cukup. Mereka lupa bahwa daya ingat juga perlu dikelola dan dilatih. Diperlukan metode khusus untuk mengembangkannya. Jika misal saja daya ingat itu seperti toko yang amburadul, maka tak banyak gunanya. Namun jika manusia mengarahkan daya ingatnya dan memanfaatkannya secara sistematis, maka akan seperti perpustakaan yang terkelola dengan baik yang buku-bukunya tertata sistematis di rak-rak berdasarkan pokok masalah dan ukurannya dan tidak asal susun saja.

Orang yang mengkaji buku dengan tidak sistematis, sekarang membaca buku sejarah, besok membaca buku psikologi, besoknya lagi buku politik, dan setelah itu membaca buku agama, maka dia tidak akan mendapatkan pengetahuan. Metode yang benar adalah memilih buku-buku yang akan dikajinya sesuai dengan kebutuhan pribadinya. Tidak boleh mengkaji buku apa saja yang ada di tangan. Poin kedua adalah setelah mengkaji buku, supaya dipastikan apakah isinya sudah dimengerti atau belum. Poin ketiga adalah meskipun daya ingat kuat, belumlah cukup kalau pengkajian buku dilakukan sekali saja. Mengkaji buku, setidak-tidaknya dua kali, adalah perlu dan penting bagi daya ingat yang kuat, dan lebih dari tiga kali bagi daya ingat yang lemah.

Poin keempat adalah pengkajian harus memberikan pengetahuan. Harus selalu dipilih pokok persoalan tertentu untuk dikaji secara mendalam. Harus dipilih sejumlah buku yang relevan untuk dikaji. Harus dibuat Catalan dan ikhtisar. Kemudian ikhtisar dan hasil kajian supaya disimpan dalam ingatan. Baru kemudian dapat dikatakan bahwa daya ingat sudah dimanfaatkan secara optimal, dan bahwa orang bersangkutan mampu mengelola salah satu kemampuannya. Dalam Nahj al-Balâghah ada sebuah kalimat yang terkenal. Kalimat tersebut menjelaskan metode belajar atau rnetode pengkajian dan pengelolaan pikiran. Imam Ali as berkata, “Seperti tubuh, hati juga bisa jemu. Karena itu upayakan untuk hati pengetahuan yang menarik.” (Nahj al-Balâghah, sabda 9)

Contoh lain bimbingan pribadi dan pengelolaan diri adalah mengendalikan perasaan, emosi dan kecenderungan. Dapat kami katakan bahwa orang sensitif yang tidak dapat mengendalikan perasaannya, tak ubahnya seperti orang yang tidak bermoral. Pada dasarnya kepribadian tak lain adalah kemampuan mengendalikan diri. Orang yang tidak dapat mengelola hasratnya untuk makan dan tidur, dan tidak dapat mengendalikan lidah, mata, telinga dan nafsu seksualnya, maka dia bukanlah manusia dalam arti yang sesungguhnya.

Dalam risalah kami, “Wilâ` wa Wilayah” (Wali dan Kewalian, I.S.P. 1984), kami sebutkan bahwa manusia terkadang mampu mengendalikan dirinya sehingga dia menjadi tuan bagi pikiran dan daya pikirnya. Penyair Persia termasyhur Maulawi berkata:

“Aku adalah tuan bagi pikiran-pikiranku, bukan sahayanya. Seperti tukang batu, dia adalah tuan bagi apa yang dibangunnya.”

Terkadang manusia dapat mengendalikan diri sedemikian rupa sehingga dia dapat membuat perubahan pada tubuhnya seperti yang diinginkannya. Kalau dia mau, dia dapat meninggalkan tubuh­nya. Manusia dapat juga membuat perubahan pada dunia, namun masalah ini di luar ruang lingkup pembicaraan kita sekarang.

Manusia bahkan harus dapat mengendalikan perilaku ibadahnya. Ada sebuah hadis terkenal yang ditujukan kepada Jabir berkenaan dengan memelihara keasyikan beribadah. Nabi saw bersabda:

“Jangan sampai ibadah kepada Allah menjengkelkanmu, karena dengan paksaan engkau tak akan dapat melewati tahap apa pun, juga tak dapat menjaga keutuhan semangatnya.”

Mengenai mengelola orang lain, zaman modern percaya pada arti pentingnya sedemikian. Dalam kata-kata Dr. Abu Thalib, “Zaman kita adalah zaman manajemen.” Kenapa manajemen dianggap pen ting, dasamya adalah beberapa pertimbangan:

(i) Aset manusia sangat penting bagi setiap masyarakat. Imam Ali as mengatakan bahwa ilmu lebih penting dibanding harta, karena ilmu merupakan kekuatan manusia dan aset manusia, sedangkan harta adalah kekuatan non-manusia dan aset non-manusia. Tanpa aset manusia ini maka aset non-manusia jadi bencana. Jika tak ada aset non-manusia, aset ini dapat diperoleh dengan bantuan aset manusia, namun tidak sebaliknya. Dewasa ini kita melihat bahwa bangsa kurang berpendidikan namun kaya yang luar biasa sUmber daya alamnya seperti Iran [2]dan Arab Saudi tak berdaya di hadapan kekuatan-kekuatan dunia yang tak memiliki sumber daya ini, dan dieksploitasi oleh kekuatan-kekuatan ini. Sebuah hadis menyebutkan, “Manusia laksana tambang emas dan perak.”

(ii) Seperti minyak, yang ditemukan, diambil, disuling dan kemudian digunakan, aset manusia juga perlu dikelola, dibimbing, ditemukan dan dapat membawa manfaat. Tak seperti binatang yang memiliki naluri yang kuat, karena naluri manusia kurang kuat, maka manusia perlu belajar. Dengan kata lain, manusia perlu petunjuk, bimbingan, dan perlu dipimpin. Kebutuhan manusia akan bimbingan merupakan dasar ajaran para nabi dan filosofi misi mereka. Misi Nabi saw juga didasarkan pada filosofi ini.

(iii) Poin ketiga adalah, seperti sudah disebutkan sebelumnya, manusia, dalam perilaku dan kehidupan spiritualnya, memiliki hukum atau mekanisme tersendiri dan sistem khusus aksi-reaksi. Kalau kita hendak bekerja dengan manusia, maka kita perlu mengetahui mekanismenya dan hukum yang mengatur perilakunya. Manusia tak ubahnya seperti kotak misteri. Untuk membuka kota semangat dan jiwanya dan untuk bisa bekerja sama dengannya, lebih daripada apa pun, dibutuhkan pengetahuan dan kebijaksanaan, bukan kekuatan atau paksaan. Hukum yang mengatur perilaku manusia bukan untuk dirumuskan, namun untuk ditemukan, tak ubahnya seperti hukum fisika, kimia dan fisiologi.

Dapat dilihat dengan jelas bahwa Islam memberikan perhadan yang semestinya tentang ketiga poin ini. Arti penting aset manusia diilustrasikan dengan apa yang dinyatakan Islam tentang kedudukan manusia. Oleh Islam manusia digambarkan sebagai wakil (khalifah) Allah SWT, di hadapan manusia para malaikat bersujud, dan dalam diri manusia ada roh Allah. Para nabi datang untuk menguak misteri khazanah akal manusia. Allah SWT berfirman kepada manusia, “Aku ciptakan segala sesuatu untukmu, dan ciptakan kamu untuk-Ku. Dia telah menciptakan bagimu semua yang di langit dan burnt. Telah Kami ciptakan untukmu semua yang di burnt. Kami jadikan mata pencarianmu di dalamnya. Dia telah menciptakan kamu dan bumi dan menempaikanmu di dalamnya.”

Prinsip kedua, seperti sudah kami sebutkan, menjadi dasar dari misi para nabi. Prinsip ketiga adalah yang sekarang ini disebut prinsip manajemen. Dari dua sumber Islam dapat diambil pelajaran atau kesimpulan. Sumber pertama Islam adalah catatan hidup[3] Nabi saw, Imam Ali as dan para imam suci lainnya yang luar biasa mengagumkan. Sumber keduanya adalah petunjuk dari tokoh-tokoh agung ini kepada wakil-wakil mereka, yang mereka angkat menjadi pemandu umat. Menurut “Sirah Ibn Hisyam”, Nabi saw berkata kepada Mu’adz bin Jabal, “Buatlah segalanya mudah bagi orang, jangan mempersulit mereka, tundukkan hati mereka dengan mengatakan hal-hal yang menyenangkan mereka, jangan menakuti mereka hingga mereka lari. Dan bila kamu salat bersama mereka, hendaknya salatmu tidak memberatkan orang-orang yang paling lemah di antara mereka.”

Dalam instruksi kebijakan yang dikeluarkan Imam Ali as kepada para gubernur dan administratornya seperti Utsman bin Hunaif, Qutham bin Abbas, Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Abbas dan khususnya kepada Malik al-Asytar, dapat ditemukan ratusan isu psikologis dan sosial yang berhubungan dengan prinsip manajemen dan kepemimpinan.

Sayangnya kita tidak tahu filosofi instruksi ini. Misal, kita tidak tahu filosofi dasar dari pola hidup sangat bersahaja dan bermoral yang erat kaitannya dengan kepemimpinan. Kita sering menggambarkan pola hidup seperti itu sebagai pelarian dari dunia dan kehidupan ini. Peristiwa terkenal Imam Ali as yang diriwayatkan dalam “Nahj al-Balâghah”, yang kita kutip dalam artikel kita mengenai kezuhudan, membuat filosofi ini sangat jelas. Imam Ali as suatu ketika berkunjung ke rumah Ala’ bin Ziyad. Setelah sebentar berbincang, Ala’ mengeluh tentang saudaranya, Asim bin Ziyad. Imam Ali as memanggilnya, lalu menyapanya “Wahai musuh dirimu.” Imam Ali as mencela kezuhudan Asim. Asim menjawab dengan mengutip contoh Imam Ali as sendiri. Imam Ali as berkata, “Allah mewajibkan para imam kaum Muslim untuk selalu berada pada tingkat orang paling miskin, agar si miskin tidak merasa malu dengan kemiskinannya.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 209)

Dalam piagam yang dikeluarkan untuk Malik al-Asytar, Imam Ali as menjelaskan, “Jangan bersandar pada orang yang suka hidup enak dan membanggakan diri, yang terlalu banyak berharap dan banyak menuntut. Bersandarlah pada massa yang mengetahui nilai pelayanan dan siap mengikuti kebenaran.” (Nahj al-Balâghah, surat 53)

Dalam piagam ini juga Imam Ali as membicarakan beberapa hal yang berkaitan dengan administrasi, dan mengeluarkan instruksi berkenaan dengan sikap menghadapi beragam golongan masyarakat seperti staf sekretariat, tentara, hakim, pebisnis, tukang, dan seterusnya. Imam Ali as menjelaskan jiwa dan nilai masing-masing mereka.

32. Kemampuan memimpin kalau tidak pembawaan, ia merupakan hasil dari upaya. SesUngguhnya kemampuan ini pembawaan maupun hasil dari upaya. Sebagian orang sejak kecil sudah menunjuk-kan bakat memimpin. Mereka dapat membuat orang lain mengikuti rencana mereka. Mereka dapat mempengaruhi orang lain dan membuat orang lain mematuhi mereka. Konon raja Iran yang bernama Nadir, ketika masih anak-anak biasa membuat rencana invasi dan penaklukan dengan menggunakan kawanan dombanya sebagai tentaranya. Sebagian orang percaya bahwa semua atau kebanyakan nabi pernah menjadi gembala sehingga mereka mendapat pengalaman praktis menjadi pemimpin. Tentu saja pemimpin berbakat alam pun jika tidak maksum perlu memperoleh pengalaman dan belajar seni memimpin. Ketika para nabi harus menjadi gembala, jelaslah apa yang perlu dilakukan non-nabi.

Satu hal yang memmjukkan ketidaktahuan masyarakat kita adalah bahwa orang yang untuk beberapa lama belajar fiqih dan teologi, mendapatkan pengetahuan terbatas di bidang ini dan menulis buku kecil, lalu disebut oleh pengikutnya “pemimpin terkemuka Syiah”. Karena itulah soal marja’ (otoritas keagamaan) merupakan salah satu problem mendasar dunia Syiah. Insya Allah, kami akan membahasnya dalam artikel tersendiri di bawah judul “Salah Satu Problem Pokok Ulama”. Fakta bahwa masyarakat kita menganggap sebagai pemimpin bahkan terhadap ulama yang paling banter hanya menyampaikan fatwa formal, telah membuat kekuatan-kekuatan Syiah mengalami stagnasi. Sesungguhnya ulama yang menyampaikan fatwa adalah penerus Nabi saw (hanya sejauh menyangkut satu bagian dari norma hukum), sedangkan pemimpin berarti penerus imam (Penerus Imam bertanggung jawab me-ngeluarkan fatwa maupun memimpin kaum Muslim).

33. Konsekuensi ketidakmatangan.[4] Seperti telah kami sebutkan dalam artikel mengenai Kematangan Islam, no. 5, orang yang tidak memiliki kematangan finansial, maka dia perlu wali. Bangsa yang belum matang juga perlu bangsa lain untuk menjadi walinya baik secara terbuka maupun terselubung. Kolonialisme lama merupakan perwalian terbuka, sedangkan kolonialisme baru merupakan perwalian terselubung. Bangsa wali mengambil segalanya termasuk agarna bangsa dunia. Yang diberikan oleh bangsa wali ini kepada bangsa Muslim yang mereka kuasai hanyalah sebuah Islam yang bentuknya sudah mengalami distorsi.

Dalam artikel kami mengenai kezuhudan, kami kemukakan bahwa sensitivitas merupakan salah satu dasar dari sikap hidup bersahaja dan bermoral. Dengan kata lain, bila tak dapat memberikan bantuan material kepada orang yang membutuhkan, setidak-tidaknya harus diberikan bantuan moral. Kezuhudan seperti ini wajib bagi pemimpin. Kami kutipkan sebuah riwayat dari Imam AH as. Imam Ali as berkata, “Allah SWT telah mengangkatku menjadi Imam bagi makhluk-Nya. Dia telah mewajibkanku untuk setingkat dengan orang termiskin, sehingga si miskin akan menerima kemiskinannya dan kekayaan si kaya tidak akan dapat mengganggu pikirannya.”

Catalan Mengenai Kepemimpinan dalam Islam

1. Imam Ali as berkata kepada Utsman, “Sebaik-baik manusia dalam pandangan Allah SWT adalah penguasa yang adil, yang dibimbing oleh Islam dan yang membimbing orang lain ke arah Islam, yang menjaga dan menghidupkan sunah Nabi saw dan yang memerangi bid’ah. Seburuk-buruk orang dalam pandangan Allah adalah penguasa lalim yang sesat dan menyesatkan orang lain, yang memerangi sunriah dan menghidupkan kembali bid’ah. Aku mohon engkau dengan nama Allah untuk tidak menjadi penguasa seperti itu karena penguasa seperti itu akan dibunuh oleh kaum
tertindas, karena telah diprediksikan bahwa pemimpin umat yang membuka pintu pertumpahan darah dan perseteruan akan dibunuh. Dia akan menebarkan keraguan di kalangan umat dan kekacauan, akibatnya umat tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Umat jadi gelisah dan kacau. Karena itu dengan usia dan pengalamanmu, janganlah menjadi hewan kesayangan Marwan, dan jangan sampai dia mengaturmu.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 164)

Kalimat terakhir ini menunjukkan bahwa pemimpin harus berpikiran mandiri dan tidak boleh menjadi alatnya orang-orang di sekitarnya. Kalimat-kalimat sebelumnya mengenai pentingnya roh keadilan yang harus dimiliki pemimpin.

2. Instruksi Imam Ali as kepada salah seorang pejabatnya yang ditugaskan untuk memungut zakat. Setelah memberikan petunjuk tertentu dan menasihati agar ikhlas dalam bertutur dan berbuat, Imam Ali as berkata, “Aku perintahkan engkau untuk tidak bermusuhan dengan mereka, untuk tidak menindas mereka, dan untuk tidak menjauhkan diri dari mereka, dengan memperlihatkan superioritasmu kepada mereka karena engkau adalah pejabat pemerintah. Mereka adalah saudaramu seiman dan diharapkan membantumu dalam memungut iuran…. Celakalah orang yang diadukan oleh si miskin, si papa, si peminta-minta, orang yang menderita, dan si musafir kepada Allah! Seburuk-buruk pengkhianatan adalah menyalahgunakan dana publik, dan sehina-hinanya kekufuran adalah membohongi Imam.” (Nahj al-Balâghah, surat 26)

3. Imam Ali as berkata, “Kalau dibandingkan dengan beramar makruf bernahi munkar, semua amal baik dan jihad di jalan Allah SWT tak lebih daripada tiupan udara di samudera yang amat luas dan amat dalam. Beramar makruf bernahi munkar tidak membuat ajal jadi lebih dekat, juga tidak mengufangi rezeki. Namun yang lebih berharga ketimbang semua ini adalah berkata adil di hadapan penguasa zalim.”

Jadi, pembaruan rohaniah (beramar makruf bernahi munkar) lebih penting dibanding berperang suci melawan kaum kafir, namun yang lebih penting lagi adalah berjuang melawan pe-nyimpangan pemimpin. Dapat dicatat bahwa ber-amar makruf bernahi munkar merupakan sebuah tahap dalam jihad, dan berkata adil di hadapan penguasa kejam juga merupakan beramar makruf bernahi munkar.

4. Imam Ali as dengan tegas mengatakan bahwa pandangan kaum Khawarij bahwa Al-Qur’an sudah cukup dan bahwa tak perlu ada pemerintah, mesin administrasi dan pemimpin, adalah salah. Kaum Khawarij biasa mengatakan bahwa “tak ada hakim kecuali Allah.” Imam Ali as berkata, “Slogan mereka memang benar, namun kesimpulan mereka salah. Mereka mengatakan bahwa tak
usah ada pemerintah kecuali pemerintah Allah SWT. Namun orang perlu penguasa, entah penguasa itu baik atau buruk, karena dengan kekuasaannya si beriman dan si kafir dapat bekerja dan menikmati hidup.” (Artikel 10 mengenai Nahj al-Balâghah, Murtadha Muthahhari)

Mesin administrasi disebut pemerintah, karena mesin ini menjaga kedamaian internal dan eksternal, dan menyelenggarakan hukum dan ketertiban. Disebut Imamah karena dikepalai oleh seorang pemimpin yang memobilisasi kekuatan-kekuatan potensial, menggali dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ter-pendam. Dalam “Nahj al-Balâghah” digunakan kata wall dan ra’iyyah untuk penguasa dan rakyat. Kata-kata ini menunjukkan bahwa tugas penguasa adalah melindungi dan memperhatikan rakyatnya. Imam Ali as berkata, “Klaim terpenting yang dirumuskan oleh Allah SWT adalah klaim penguasa atas rakyat dan klaim rakyat atas penguasa.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 216)

5. “Yang dibutuhkan manusia bukan hanya pangan dan papan. Kebutuhan manusia beda sekali dengan kebutuhan burung merpati atau rusa. Manusia memiliki sejumlah kebutuhan psikologis yang juga perlu dipenuhi. Karena itu belum cukup bila pemerintah yang ingin populer dan diterima hanya memenuhi kebutuhan material rakyatnya saja. Pemerintah juga perlu memperhatikan kebutuhan manusiawi dan spiritual rakyatnya. Yang penting adalah sikap pemerintah terhadap rakyat. Apakah pemerintah memandang rakyat sebagai alat yang tak bernyawa, atau sebagai hewan beban dan hewan penghasil susu yang juga perlu perawatan medis juga, atau sebagai manusia yang memiliki hak yang sama. Pendek kata, apakah rakyat untuk pemimpin, atau pemimpin untuk rakyat?” (Artikel 5 mengenai Nahj al-Balâghah)

Dalam artikel tersebut di atas, kami sebutkan bahwa mengakui hak rakyat dan berpantang dari segala yang merusak otoritas pemimpin merupakan syarat sangat penting pertama bagi pemimpin yang ingin memenuhi kebutuhan rakyat dan ingin dipercaya rakyat.

Dalam artikel di atas sudah kami sebutkan bahwa hubungan tidak natural yang dibuat gereja antara beriman kepada Tuhan dan menolak kedaulatan manusia, dan akibat naturalnya antara kedaulatan manusia dan menolak Tuhan, merupakan faktor penting yang membuat orang meninggalkan agama.

Kaisar Rum, Kaligola (abad pertama Masehi atau abad pertama sebelum Masehi) biasa mengatakan bahwa penguasa memiliki keunggulan atas rakyat seperti keunggulan gembala atas domba. Penguasa seperti dewa, sedangkan rakyat seperti hewan ternak.

Sebagian filosof Barat juga percaya bahwa penguasa berkuasa bukan untuk kepentingan rakyatnya. Menurut para filosof ini, penguasa memiliki hak ilahiah, yaitu bahwa rakyat diciptakan untuk kepentingan penguasa.

6. Dalam artikel di atas sudah kami kemukakan bahwa meskipun kata ra’iyyah digunakan oleh Imam Ali as, dalam bahasa Persia kata ini belakangan mendapatkan arti yang menjijikkan,
namun sesungguhnya kata ini menunjukkan konsepsi bahwa penguasa itu untuk rakyat, bukan rakyat untuk penguasa.

7. Juga sudah kami katakan bahwa Surah an-Nisa’ ayat 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” menunjukkan bahwa penguasa adalah penjaga rakyat. Dengan kata lain, ayat ini menyebutkan dengan jelas prinsip penguasa untuk rakyat bukan rakyat untuk penguasa. Kitab Majma’ mengutip Imam
Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada para imam sedangkan ayat berikutnya: “Taatilah Allah dan taatilah Rasul,” ditujukan kepada umat. Imam Muhammad al-Baqir as mengatakan, “Satu dari dua ayat ini berkaitan dengan kami (hak kami), sedangkan satunya berkaitan dengan kamu (hak kamu).” Imam Ali as berkata, “Imam, kalau memutuskan sesviatu, menunit apa yang diwahyukan Allah. Dia selalu menjaga amanat. Karena itu, umat wajib mendengarkan dan menaatinya, dan wajib menjawab kalau diseru.” (al-Mizan mengutip dari Durr al-Mantsur)

8. Imam Ali as menulis surat kepada gubernurnya di Azerbaijan: Tekerjaan Anda bukanlah makanan kecil yang enak, melainkan amanat yang wajib Anda jaga. Anda telah diangkat oleh atasan Anda menjadi gembala (untuk mengurusi rakyat Anda). Karena itu Anda tjdak berhak bersikap lalim terhadap rakyat.” (Nahj al-Balâghah, surat 5)

Dalam surat edaran yang ditujukan untuk semua petugas pajak, Imam Ali as berkata, “Berlaku adillah terhadap rakyat, dan dengan sabar perhatikan kebutuhan mereka, karena Anda adalah bendaharawan rakyat, wakil umat, dan duta Imam.” (Nahj al-Balâghah, surat 51)

Dari uraian no. 6-9 jelaslah bahwa dari sudut pandang “Nahj al-Balâghah “, basis kepemimpinan adalah pemimpin untuk rakyat bukan rakyat untuk pemimpin.

Kepemimpinan dan Manajemen

1. Arti kepemimpinan sinonim dengan arti imamah. Kalau arti hidayah (petunjuk) adalah memandu ke tujuan, maka manajemen adalah semacam kematangan.

2. Frase kematangan finansial pada umumnya digunakan berkenaan dengan anak yatim, meski berlaku juga untuk individu lain. Kematangan untuk menikah berlaku untuk semua orang.

3. Definisi kematangan: Kompetensi untuk menggali, memanfaatkan dan menjaga potensi-potensi yang ada. Ini butuh pengetahuan dan daya kehendak. Arti pengetahuan adalah mengetahui makna, tujuan, nilai dan hasil kerja serta kemampuan memilih.

4. Hidup adalah aset. Usia adalah aset. Manusia memiliki kekuatan mengagumkan yang belum termanfaatkan. Anggota badan, organ, kemampuan fisis dan spiritualnya, semuanya adalah aset. Sejarah, budaya, waktu, sastra, buku, teknologi, seni dan peradaban, juga aset.

5. Setiap jenis kematangan berarti kemampuan tertentu untuk mengelola, namun bila kata mengelola digunakan dalam pengertian manajemen-manusia, maka artinya lebih dekat dengan arti imamah.

6. Manajemen-manusia dan kepemimpinan merupakan seni untuk memobilisasi, mengorganisasi, mengendalikan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan manusia dengan lebih baik.

Kekuatan manajemenlah yang mengubah bangsa paling lemah menjadi bangsa paling kuat. Pemimpin besar dunia bukanlah orang yang memasung bangsanya dan melarang bangsanya untuk bersuara. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang memobilisasi kekuatan-kekuatan individu, memberinya dorongan, mengkoordinasikannya, dan menciptakan ideal bagi rakyatnya. Untuk menciptakan ideal, dibutuhkan adanya dua hal: pertama, rakyat dibuat ideal-minded (cenderung kepada ideal); kedua, kelompok-kelompok besar rakyat didorong untuk menerima ideal yang disampaikan.

7. Manajemen lebih dibutuhkan oleh manusia ketimbang oleh hewan. Kawanan domba dapat diurus oleh gembala tidak berpendidikan yang tahu padang rumput dan tempat-tempat yang ada
airnya, dapat menjaga dombanya untuk tidak tercerai berai, dan melindunginya dari serangan serigala. Jika ada dombanya yang jatuh sakit, dia harus dapat mengobatinya. Namun domba tidak memiliki dunia spiritual yang dialami. Domba tidak memiliki kekuatan-kekuatan yang eksplosif di dalam dirinya, juga tidak ada moral yang dapat dipelajarinya. Domba bukanlah wakil Allah atau
manifestasi Nama dan Sifat-Nya, juga tidak “diciptakan sebagai yang sebaik-baik kualitas karakternya.” Itulah sebabnya domba butuh gembala, sedangkan manusia butuh pemimpin, dan pemimpin harus lebih unggul dibanding manusia lain ketimbang gembala terhadap dombanya.

8. Beda antara kenabian dan imamah adalah kenabian itu bimbingan, sedangkan imamah adalah kepemimpinan. Kenabian adalah menyampaikan dan menunjukkan jalan yang benar. Imamah adalah memimpin dan memobilisasi serta mengorganisasikan kekuatan-kekuatan yang ada. Sebagian nabi adalah pemandu sekaligus pemimpin seperti Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi terakhir Muhammad saw. Sebagian nabi lainnya hanya pemandu saja, namun imam hanya pemimpin saja. Imam dibimbing dengan petunjuk yang diberikan oleh Nabi terakhir saw.

9. Beda antara konsep kepemimpinan di dunia modern dan dalam terminologi Islam.

10. Tiga hal pen ting ten tang manusia: (i) Manusia adalah harta yang tinggi nilainya. “Mereka, melalui pencarian, menemukan bagi diri mereka harta mental.” (ii) Naluri saja tidak cukup bagi manusia. (iii) Hukum yang mengatur jiwa manusia begitu rumit sehingga, kalau mau sukses, pemimpin harus tahu hukum yang mengatur kehidupan manusia.

Mengetahui hukum ini adalah kunci untuk menguasai had rakyat. Belenggu-belenggunya perlu dihancurkan. “Dia akan melepaskan mereka dari beban mereka dan belenggu-belenggu yang memasung mereka.” Manajemen-manusia Nabi saw dalam keluarganya, di antara para sahabatnya, dan dalam hubungannya dengan persiapan pasukan. Nabi tahu bagaimana mengurus manusia. Instruksi Nabi saw, berkenaan dengan dakwah dan manajemen, kepada Mu’adz bin Jabal, “Buatlah segalanya mudah. Jangan mempersulitnya. Tundukkan hati orang dengan berkata hal-hal yang menyenangkan kepada mereka. Jangan buat mereka jadijauh. Bila kamu salat bersama mereka, hendaknya salatmu salat yang cocok dengan orang paling lemah di antara mereka.”

Peristiwa Imam Ali as dan Asim bin Ziyad. Sikap hidup Imam Ali as yang sangat bersahaja dan bermoral merupakan bagian dari administrasinya.

11. Yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah inisiatif, kemampuan kreatif untuk mengorganisasi, mampu menarik rakyat, dan dicintai serta dipercaya rakyat (lihat no. 15).

12. Kepemimpinan Nabi saw membuat Abu Sufyan tercengang. Kisah tentang tiga orang berbeda di Tabuk. Kisah tentang Abu Dzar.

13. Nabi saw bersabda bahwa jika tiga orang pergi bersama-sama, maka mereka supaya memilih salah satu dari mereka untuk jadi pemimpinnya. Ini menunjukkan betapa Islam memandang penting manajemen-manusia. Kepada Nabi saw, Allah SWT berfirman bahwa jika Nabi saw tidak menyebutkan dengan tegas siapa
yang akan menjadi imam, berarti Nabi saw tidak menyampaikan risalah Allah SWT.

14. Kehidupan Imam Husain as merupakan contoh kepemimpinan yang sangat bagus.

15. Kualitas Pemimpin:

(a) Memiliki inisiatif.

(b) Bersikap menyenangkan—kisah Imam Ali as dan Asim bin Ziyad—kehidupan publik.

(c) Mampu mengorganisasi.

(d) Mampu memilih orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat.

(e)Mampu mendapatkan cinta dan kesetiaan rakyat.

(f) Mampu meyakinkan rakyat akan pen ting dan perlunya mencapai tujuan.

(g) Mengerti kondisi yang ada…. “Air yang payau dan makanan kecil yang mencekik tenggorokan.”

(h) Percaya dan yakin pada tujuan.

(i) Percaya dan yakin akan sukses—tidak ragu-ragu—percaya diri (Nabi saw yakin sekali pada misinya. Imam Husain as juga yakin dengan hasil dari apa yang dilakukannya).

(j)  Mampu memilih dengan benar tindakan yang akan di­lakukannya.

(k) Mampu memilih dengan tepat.

(l)  Cepat dalam memilih.

(m) Berketetapan had dalam memilih langkah dan dalam memilih tujuan itu sendiri.

(n) Teguh.

(o) Berani menghadapi konsekuensi.

(p) Memiliki rencana langkah yang akan diambil kalau gagal.

(q) Memiliki dnjauan ke masa depan.

(r)  Murah hati, luhur budi, dan lapang dada.

(s) Mampu mendistribusikan tugas dan kekuatan manusia dengan benar.

(t)Berani menerima kekalahan.

(u)Kuat kemauannya dan cukup tangguh kepribadiannya, sehingga rakyat termotivasi dan terpengaruh. Mampu menyampaikan pesan dengan meyakinkan.

Itulah sebabnya kaum kafir mengira bahwa Nabi saw memiliki kekuatan magis yang diliputi misteri.

Imam Ali as berkata kepada Ibn Abbas, “Kekhalifahan ini lebih tak ada artinya bagiku ketimbang sepatu usang kalau aku tidak membawa yang benar atau tidak memperbaiki yang salah.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 33)

“Justifikasi sangat penting yang dititahkan Allah SWT adalah penguasa dapat menuntut haknya atas rakyat dan rakyat dapat menuntut haknya atas penguasa. Allah SWT menetapkan masing-masing berkewajiban terhadap satu sama lain. Sistem ini ada untuk mengembangkan cinta di antara mereka dan untuk kemuliaan dan keagungan agama mereka. Rakyat tidak akan baik kalau penguasa-nya tidak baik, dan penguasa tidak akan baik kalau rakyatnya tidak jujur.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 216)

Kedudukan penguasa adalah kedudukan wali (wakil).

Kualitas terpenting imam adalah dua: adil dan memandu. Dua kualitas ini merupakan tujuan utama diutusnya para nabi, sehingga manusia dapat menegakkan keadilan. Nabi saw dilukiskan sebagai orang yang mengajak manusia kepada Allah SWT dan sebagai lampu pencerah. Dari sudut pandang keadilan, imam adalah pelindung dan pengawas. Dan dari sudut pandang bimbingan atau panduan, imam adalah pemimpin dan kepala. Dari kedua sudut itu imam adalah model dan teladan. Kepribadiannya merupakan perwujudan sempurna keadilan maupun perwujudan sempurna kemajuan, kematangan dan kepemimpinan yang baik.

Soal yang paling relevan berkenaan dengan imamah adalah kebutuhan apa yang dipenuhinya. Kenabian adalah produk dari suatu kebutuhan tertentu, begitu pula imamah.

Empat tugas Nabi saw: Otoritas keagamaan, pemimpin politik, menegakkan keadilan, dan mengawasi kondisi serta konsepsinya.

Ayat Al-Qur’an mengatakan bahwa keteladanan Nabi saw adalah untuk diikuti.

Kebenaran tentang kemaksuman dan hubungannya dengan iman yang sempurna. Hadis Tsaqalain dan hubungannya dengan kemaksuman. Ayat “Tuanmu hanyalah Allah” dan hubungannya dengan kemaksuman.

Beragam pemakaian kata “imam” dalam hubungannya dengan otoritas keagamaan dan kepemimpinan politik—imam yang sejati dan imam palsu.

Hujah rasional imamah dan wilayah dalam arti memiliki kekuatan untuk bertindak independen—wilayah, adalah bagian dari hukum kosmis. Studi komparatif mengenai argumen-argumen para teolog seperti ‘Allamah Hilli dan Syaikh Mufid dan argumen ‘Allamah Thabathaba’i yang kami muat dalam “Khilafah dan Wilayah”, hal. 380.

Syiah membahas soal wilayah dan imamah dari tiga sudut: otoritas keagamaan, kepemimpinan politik, dan kepercayaan pada manusia sempurna serta penguasa zaman.

Soal penguasa zaman dan soal sahabat Allah—Menghubungkan administrasi dengan selain Allah—Menghubungkan kegagalan dengan selain Allah—Menghubungkan wahyu atau karunia dengan selain Allah—Tak ada soal penilaian atau pilihan manusia—Makna ayat “Aku tak kuasa membawa keuntungan bagi diriku.”

Al-Qur’an dan manusia—Bagaimana kedudukan manusia menurut Al-Qur’an? Di hadapan manusia, para malaikat bersujud.

Pembahasan mengenai “karunia (luthf) Allah” dan “yang lebih tepat”—Pembahasan ini membuktikan eksistensi imam maksum— Pembahasan mengenai kedudukan sejati manusia—Imamah dalam pengertian perwalian spiritual menunjukkan arti penting manusia, dan karena itu pembahasannya merupakan pembahasan mengenai manusia.

Sesungguhnya manusia memiliki dua kehidupan, kehidupan spiritual dan kehidupan non-spiritual. Kedua kehidupan ini aktual. Kehidupan spiritual manusia bukanlah sesuatu yang tidak nil atau fenomenal.

Beda antara kenabian dan wilayah (Khilafah dan Wilayah, hal. 379, dan Lihat Wali dan Kewalian).

Al-Qur’an menyebutkan alasan kenapa para nabi selalu manusia. Inti masalahnya adalah bahwa para nabi, selain sebagai medium untuk menyampaikan pesan Allah SWT, juga merupakan medium untuk menyampaikan pengetahuan juga. Manusia dapat menerima pengetahuan dari makhluk non-manusia, namun manusia tidak dapat mencintainya, dan juga tidak dapat menyaingi apalagi mengunggulinya.

“Mengapa agama membuat sejarah, mewujudkan budaya, mendidik dan melatih manusia yang tak terhingga jumlahnya dan banyak generasi seperti yang dikehendakinya, namun tidak mampu mewujudkan sebuah kota ideal? Para sosiolog mengatakan dan para sejarahwan mengakui bahwa sejak zaman Plato sampai sekarang ini dan bahkan di zaman peradaban Mesopotamia, belum pernah ada satu kota ideal seperti ini. Alasannya, kota ideal adalah kota yang tak boleh ada Pemimpin Ilahiah (imam)-nya.” (Umat dan Imam, hal. 100)

Masalahnya adalah kenapa dalam kota ideal versi para filosof itu tak ada imam. Sesungguhnya ini merupakan kekurangan mazhab filosof. Mazhab mereka tak ada basis spiritualnya. Basisnya hanya basis rasional.

Beda antara ideologi keagamaan dan ideologi lain bukan saja karena ada dan tak ada imam. Lagi, model seperti itu harus dicari pada para sahabat dan pengikut Nabi saw, bukan pada personalitas luar biasa imam atau nabi. Kalau saja setiap orang dapat menjadi imam, lantas kenapa imam hanya satu orang saja. Jika tidak mungkin, berarti imam tak bisa menjadi teladan bagi manusia. Namun imam dapat menjadi model tertinggi.

Kelihatannya sumber tesis buku “Umat dan Imamah” adalah “Pengantar Kepemimpinan”, Bedanya hanyalah kalau “Umat dan Imamah ” adalah buku yang ditulis untuk mendukung sebuah teori keagamaan, sedangkan “Pengantar Kepemimpinan” bukan untuk itu, dan dasarnya hanyalah aspek-aspek psikologis. Disebutkannya dengan jelas bahwa imam, khususnya Imam Gaib (Imam Mahdi as), memenuhi tuntutan spiritual manusia yang butuh pemimpin.

Imamah Para Imam

Salah satu hujah imamah adalah pengetahuan ilahiah seorang imam dan rasa hormat luar biasa yang ditunjukkan kaum Alawi dan lainnya kepada para imam ketika para imam ini masih kanak-kanak. Ketika dikatakan kepada Ali bin Ja’far, seorang paman dari ayah Imam Muhammad al-Jawad as, “Meskipun Anda ini seorang tua besar dan putra Imam Ja’far Shadiq as, Anda berkata demikian tentang pemimpin ini.” Ali bin Ja’far berkata, “Aku pikir Anda ini orang yang penuh tipu daya.” Dia kemudian memegangi jenggotnya dan berkata, “Harus bagaimana lagi, karena Allah SWT menganggapnya tepat untuk jabatan ini, dan tidak memandangku tepat untuk jabatan ini sekalipun rambutku sudah beruban!” (Imam ash-Shadiq, hal. 150)



[1] Mengkompromikan prinsip bisa karena alasan praktis. Ini terjadi juga karena adanya perasaan hormat yang berlebihan terhadap seseorang. Kompromi juga bisa terjadi karena sikap diskriminatif dalam memperlihatkan penghargaan atau menerima perantaraan (campur tangan). Nabi saw memberikan hukuman bahkan kepada orang-orang terkemuka Quraisy. Nabi saw tidak memperlihatkan penghargaan yang tidak pada tempatnya kepada siapa pun. Ada tiga alasan utama kenapa terjadi kompromi prinsi: Pertama karena takut, dan kedua karena serakah. Karena itu seorang pembaru haruslah berani, dan tidak boleh di-pengaruhi suap uang, suap sanjungan, suap wanita dan sebagainya. Sebab ketiganya adalah nepotisme dan penghargaan yang berlebihan kepada sahabat. Persahabatan seorang pembaru haruslah demi Allah saja. Dapat dicatat bahwa penghargaan berlebihan digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai “idzan”. Kata ini semula berarti meminyaki. Karena itu, termasuk di dalamnya adalah bujukan, sanjungan, rayuan, kebohongan dan tipuan. Kata ini digunakan dalam pehgertian melakukan kompromi juga. Mau berkompromi dalam hal-hal prinsip bisa terjadi dengan sengaja meski diam-diam, juga bisa terjadi karena tidak sadar. Bentuk lain dari berkompromi dalam hal-hal prinsip adalah eksploitasi atas kelemahan masyarakat bukannya memerangi kelemahan tersebut, dan hanyut dalam kecenderungan umum masyarakat. Contoh-contoh sikap ini adalah mau cium tangan dan terlalu peka terhadap soal-soal perselisihan Syiah-Sunni. Cerita tentang almarhum Mirza Muhammad Arbab dapat disebutkan sebagai contoh. Ayat,… “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberikan nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberikan nasihat. ” (QS. al-A’râf: 79) Juga mengenai persoalan ini, Sufyan Tsauri berkata, “Kalau Anda melihat ulama yang banyak temannya, Anda bisa yakin dia pasti sembarangan. Kalau dia berkata benar saja, orang tidak akan menyukainya.” Kata Abu Dzar, “Ber-amar makruf nahi munkar membuat aku tak punya teman.” Kata Imam Ali as, “Jangan coba-coba sok akrab denganku, dan jangan panggil aku dengan kata-kata panggilan untuk tiran.”

Kata-kata Imam ini menunjukkan bahwa suka sanjungan dan suka sebutan-sebutan yang kedengarannya hebat juga merupakan semacam berkompromi dalam hal-hal prinsip. Orang yang menyukai hal-hal murah seperti itu tidak akan berhasil mereformasi masyarakat. Lagi, Imam Ali as berkata, “Bagiku, yang kuat itu lemah, sampai aku memaksanya mengembalikan hak orang.” Imam Ali as bermaksud mengatakan bahwa Imam bukan termasuk orang yang berkompromi dalam hal-hal prinsip. Kita sering menjumpai kata kompromi dalam kaitannya dengan urusan Muawiyah dan usulan kepada Imam Ali as untuk berdamai.

[2] Dapat dicatat bahwa catatan-catatan ini ditulis sebelum Revolusi Islam Iran.

[3] Satu bagian dari catatan hidup Nabi saw perlu dikaji dari sudut pandang prinsip-prinsip kepemimpinan.

[4] Item no. 33 mengenai tanda-tanda ketidakmatangan, yang sudah disebutkan dalam artikel tentang kematangan Islam dalam buku “Pertolongan Ilahi dalam Kehidupan Manusia “.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s