Welcome The Problem !

From: [EMAIL PROTECTED]

Masalah memang bisa menghentikan kita untuk sementara waktu.
Tetapi hanya kita lah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya secara 
permanen.

Selamat datang masalah. Apakah anda takut berhadapan dengan masalah? Kebanyakan 
orang tidak menyukai masalah dan melakukan apa saja untuk menghindarinya. Kalau 
kita mengerti apa itu masalah, maka sebenarnya tidak perlu kita terlalu 
khawatir. Justru itu menunjukkan bahwa kita memiliki tujuan, memiliki arah yang 
kita inginkan

Setiap kita membuat keputusan, dan merancang apa-apa yang akan kita lakukan 
untuk mencapai tujuan, maka sejak saat itu siap-siaplah untuk selalu menghadapi 
masalah. Itu normal. Pekerjaan kita selanjutnya memang adalah menghadapi dan 
menyelesaikan masalah. Terus saja kita berjalan. Jika tiba-tiba terjadi apa 
yang tidak diinginkan, atau hasil pekerjaaan atau proyek kita ternyata jauh 
berbeda dari apa yang sudah direncanakan, tentu tidak perlu kita mengeluh. 
Segera saja kita kembali ke jalan yang seharusnya. Koreksi sedikit, dan kembali 
melanjutkan perjalanan.

Dalam menghadapi masalah, manusia terbagi tiga. Ada sekelompok orang yang 
hidupnya mengeluh saja terhadap masalah. Awalnya hanya masalah kecil, namun 
karena terus dipelototin dan terus aja dibolak-balik, maka tampaklah masalah 
itu jadi amat besar dan kian menakutkan.

Lalu ada sekelompok orang lagi yang ia bisa menerima masalah itu sebagai sebuah 
"takdir" lalu kemudian ia fokus pada solusi. Mata dan pikirannya tidak lagi 
terus melihat saja kepada masalah itu, tapi bertanya dan mencari tahu, 
bagaimana cara mengatasinya. Pikirannya ia fokuskan pada penyelesaian. Dan 
ajaib sekali otak manusia, biasanya dengan mudah orang ini bisa 
menyelesaikannya.

Sedangkan kelompok yang ketiga adalah manusia-manusia yang tidak hanya bersabar 
dan menerima masalah itu, melainkan ia tetap mensyukurinya sebagai anugerah 
Allah yang ia maknai sebagai "ujian ketrampilan", ujian keimanan, ujian 
kesabaran, ujian kesempurnaan perjalanan ruhaninya, ujian terhadap 
kemanusiaannya. Sehingga dengan demikian, apabila ia berhasil melampauinya, 
maka naik kelas lah ia, makin dekat kepada Tuhan, dan makin hebat 
ketrampilannya, makin sempurna kemanusiaannya.

Mereka-mereka ini tidak melihat masalah sebagai hal yang negatif, melainkan 
melihatnya sebagai jalan dan metoda meningkatkan kemampuan, pengetahuan, 
keahlian dan keimanannya, sehingga naiklah derajatnya baik di mata manusia, 
maupun di hadapan Tuhan Allah. Ia menganggapnya sebagai peluang meningkatkan 
derajat kesempurnaannya. Alhasil, jadilah ia makin sempurna, makin hebat pula 
keahliannya, dan makin tinggi pula ilmunya.

Alkisah ada 2 orang sahabat sedang berbincang-bincang. 
A: "Saya ini adalah orang yang paling disukai Allah."
B: "Apa buktinya?" 
A: "Saya adalah orang yang tidak pernah diberi cobaan oleh Allah".
B: "Justru engkau orang yang paling jauh dari Allah. Sebab orang yang tidak 
pernah diberi cobaan, berarti Allah tidak ingin mengujinya."

Jadi gimana? Apakah anda setuju kalau kita bersikap, "welcome the problem?"

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s