Nyontek Terbawa Sampai Tua

Oleh : Eldy A. Akbar

Nonton debat pasangan Capres dibayangkan bakal seru,seram, geregetan. Pasti deh lebih memikat dari acara Akademi Fantasi Indonesia, Indonesian Idol atau Kontes Dangdut Indonesia. Kan yang tampilnya tokoh-tokoh kesohor negeri ini. Pantesnya mereka secara gemilang saling serang, adu argumentasi dan memamerkan daya pikatnya dengan harapan mampu melelehkan hati rakyat sehingga mau milih presiden dan wakilnya yang disenangi.
Tapi apalacur, jutaan pemirsa televisi jadi kecele. Debat pasangan Capres malah tampil dengan gaya timur saling dukung dan nambahin keterangan lawan bicara. Kalaupun ada beda pemikiran tapi arahnya samimawon.
Yaaah mau diapain,memang bukan acara debat kok. Judulnya saja Dialog atau lebih pas lagi disebut Dialuh,dia-dia eluh-eluh. Dia-dia yang ngasih janji hidup happy-happy dan eluh-eluh yang kena kibul tetep hidup happy dalam derita keinjek-injek.

Sihir TV
Secara teori televisi punya daya sihir yang kuat buat mempengaruhi pikiran rakyat. Seperti di negeri Paman Sam, rakyat yang sudah maju itu bukan milih presiden lantaran alasan visi dan misi, tapi berdasarkan tampilan menarik dan meyakinkan. Seperti terjadi di tahun 1960, J.F.Kennedy yang masih muda menawan berhasil menyingkirkan pesaingnya Nixon yang kelihatan tua dan pucat karena baru sembuh sakit.
Makanya untunglah Capres dan Cawapres yang bisa ngomong lancar, punya bahasa tubuh memikat dan mikir cerdas. Jangan iri yang sibuk buka catetan apalagi ngebacain kesimpulan yang sudah diketik rapi hasil kerja tim sukses.
Meski buka-buka catetan tak ada sanksi dan bisa dipersalahkan ,karena itu tergantung kebiasaan orang. Boleh jadi itu kebiasaan nyontek waktu sekolah kebawa-bawa sampai tua.
Terlepas dari kebiasaan waktu muda, ternyata tampilan menarik dilayar kaca setelah disurvey mampu membius 10 sampai 20 persen pemirsa untuk merubah pikirannya. Jangan aneh kalau dua hari lagi pada 5 Juli lusa ada pemilih yang berobah ingatan milih pasangan lain sehabis nonton acara debat.
Mereka bakalan tidak ragu lagi menentukan pilihannya. Dia sudah melihat, dia mendengar sendiri, dia terbius dan dia nyoblos. Sehabis itu yang dapet kursi senang sendiri dan yang nyoblos tetep dapat gigit jari.

Beda Alam
Rakyat boleh bangga dalam usia 59 tahun merdeka sudah bisa milih presiden langsung. Buat pertama kali dalam sejarah politik , debat lima pasangan Capres ditayangkan di layar kaca ke seluruh penjuru tanah air. Namanya juga baru pertama, pantes-panteslah kalau suasana kelihatan tegang. Yang bicara tegang karena stres ngeri keseleo lidah. Meleset ngomong bisa bikin simpati rakyat terbang.
Suasana tegang bertambah berkat karya moderator yang cocok buat jadi wasit.Nyemprit peluit waktu acara mulai dan nyemprit lagi waktu acara usai. Biarlah acara debat ini sudah kelewat. Ibaratnya nasi sudah jadi bubur.Mau nyesel sama KPU karena salah masang moderator enggak ada guna lagi. Paling-paling bisa jadi pelajaran buat lima tahun mendatang . Jangan lagi milih moderator yang belum matang, mahal senyum, tidak luwes dan kurang sopan serta jauh dari rasa humor.
Suasananya beda banget dengan tampilan tiga komentator seniman Butet Kertaredjasa,Harry Roesli dan Gus Dur yang rencananya datang tapi kemudian konsisten tidak muncul dan digantikan Arswendo Atmowiloto.
Namanya juga seniman, mereka biasa tampil santai dan enak ngetawaain yang lagi tegang. Sekarang mereka bebas ngasih komentar nyelekit tanpa harus ngeri kalau nanti pulangnya ada yang nyengkelit.
Kalau dipikir-pikir kenapa KPU tidak milih ketiga seniman itu jadi moderator?. Walau tampilan baju mereka sesukanya,tapi sebenarnya mereka cerdas,kritis dan otaknya sangat OK dibanding yang tampil rapi cantik dan molek.
Tapi yaaahh….biarlah kita tunggu lima tahun lagi dengan sabar. Cuma kalau ada lagi lima pasangan Capres, tampilkan mereka bersamaan jangan dipecah dua. Dari situ rakyat bisa nonton. Siapa yang suka latah, yang kebingungan, yang bermuka badak,yang biasa nyontek, yang bolot dan gugupan pasti bakal kelihatan jelas. Dan rakyat bebas komentar,bebas memilih dan bebas dikibulin.

( Penulis pemerhati sosial )

Satu pemikiran pada “Nyontek Terbawa Sampai Tua

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s