Bab 4- Hasil Penelitian

A. Deskripsi Data

Pada bagian dari bab ini secara berturut-turut akan disajikan gamabaran deskriptif tentang kepemimpinan guru, iklim organisasi kelas, dan hubungannya dengan perilaku belajar siswa.

Ketiga jenis data yang akan dideskripsikan ini terdiri dari dua variabel bebas, yaitu kepemimpinan guru dan iklim organisasi kelas, serta variabel terikat yaitu perilaku belajar siswa yang diperoleh melalui angket yang dirancang oleh peneliti berdasarkan indikator-indikatornya.

Setelah pendeskripsian data, selanjutnya disajikan pada pengujian analisis, pengujian hipotesis, dan dilanjutkan dengan tafsiran hasil pengujian hipotesis.

1. Perilaku Belajar Siswa

Instrumen perilaku belajar siswa (Y) disusun sebanyak 24 butir pernyataan yang didasarkan pada skala sikap model Likert yang dimodifikasi dengan skoring 4 untuk pernyataan sangat setuju, 3 untuk pernyataan setuju, 2 untuk pernyataan tidak setuju, dan 1 untuk pernyataan sangat tidak setuju. Hal ini berlaku untuk pernyataan positif dan sebaliknya bila pernyataan negatif.

Setelah melalui proses uji coba, instrumen perilaku belajar siswa yang layak untuk dipakai adalah berjumlah 16 butir pernyataan. Dengan demikian maka skor maksimal yang dapat diperoleh seorang responden adalah sebesar 64.

Data terkumpul menunjukkan bahwa rentangan bagi skor perilaku belajar siswa adalah skor minimum 35 dan skor maksimum 64. Dengan rentangan tersebut diperoleh harga rata-rata sebesar 53, 13 dan simpangan baku sebesar 7, 52 untuk perhitungan lengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.

Distribusi frekuensi data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Skor Perilaku Belajar Siswa

NO

KELAS INTERVAL

FREKUENSI

FREKUENSI RELATIF

1

35 – 39

1

2,50%

2

40 – 44

4

10,00%

3

45 – 49

10

25,00%

4

50 – 54

4

10,00%

5

55 – 59

10

25,00%

6

60 – 64

11

27,50%

TOTAL

40

100%

Sebagaimana hasil perhitungan di atas hasil pengolahan data diperoleh rata-rata untuk perilaku belajar siswa sebesar 53,13. Dengan demikian ternyata bahwa perilaku belajar siswa sebagai objek penelitian ini para siswa sebagai objek penelitian ini adalah para siswa pada SD di Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, rata-rata mempunyai perilaku belajar yang rendah. Untuk histogram skor perilaku belajar dapat dilihat pada grafik berikut ini :

f

Grafik 1. Histogram Skor Perilaku Belajar Siswa

K

Keterangan :

f = frekuensi absolut

K = kelas interval

Histogram dibuat menggunakan fasilitas Chart pada MS. Word ’97.

2. Kepemimpinan Guru

Instrumen kepemimpinan guru yang semula disusun 24 butir pernyataan berdasarkan pada skala sikap model Likert yang dimodifikasi dengan menggunakan 4 option yaitu skoring 4 untuk sangat setuju, 3 untuk setuju, 2 untuk tidak setuju, dan 1 untuk sangat tidak setuju, hal ini berlaku untuk pernyataan positif dan sebaliknya bila pernyataan negatif.

Setelah melalui proses uji coba ternyata bahwa jumlah butir pernyataan yang layak untuk digunakan dilihat dari validitas dan reliabilitasnya adalah 16 butir pernyataan. Dengan demikian skor maksimum yang dapat diperoleh seorang responden adalah 64.

Data yang terkumpul menunjukkan bahwa rentangan bagi skor kepemimpinan guru adalah skor minimum 26 dan maksimum 63. Dengan rentang tersebut diperoleh harga rata-rata sebesar 44,38 dan simpangan baku sebesar 9, 53.

Distribusi frekuensi dari data tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini, sedangkan histogramnya dapat dilihat pada grafik 2.

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Skor Kepemimpinan Guru

NO

KELAS INTERVAL

FREKUENSI

FREKUENSI RELATIF

1

25 – 31

2

5,00%

2

32 – 38

7

17,50%

3

39 – 45

17

25,00%

4

46 – 52

4

10,00%

5

53 – 59

4

10,00%

6

60 – 66

6

15,00%

TOTAL

40

100%

Sebagaimana hasil perhitungan di atas, hasil pengolahan data diperoleh harga rata-rata untuk kepemimpinan guru sebesar 44,38. Dengan demikian ternyata bahwa kepemimpinan guru sebagai objek penelitian ini yaitu para guru SD di Kecamatan Lebakwangi Kabupaten Kuningan rata-rata mempunyai sifat kepemimpinan yang rendah. Untuk histogram skor kepemimpinan guru adalah sebagai berikut :

f

Grafik 2. Histogram Skor Kepemimpinan Guru

K

Keterangan :

f = frekuensi absolut

K = kelas interval

Histogram dibuat menggunakan fasilitas Chart pada MS. Word ’97.

3. Iklim Organisasi Kelas

Instrumen iklim organisasi kelas disusun sebanyak 24 butir pernyataan yang didasarkan pada skala sikap model Likert yang dimodifikasi dengan menggunakan 4 option yaitu skor 4 untuk sangat setujua, 3 untuk setuju, 2 untuk tidak setuju, dan 1 untuk sangat tidak setuju, hal ini berlaku untuk pernyataan positif dan sebaliknya bila pernyataan negatif.

Setelah melalui proses uji coba, instrumen iklim organisasi kelas yang layak untuk dipakai adalah berjumlah 12 butir pernyataan. Dengan demikian skor maksimum yang dapat diperoleh seorang responden adalah sebesar 48. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa rentangan bagi skor iklim organisasi kelas adalah skor minimum 28 dan skor maksimum 48. Dengan rentangan tersebut diperoleh rata-rata sebesar 36,53 dan simpangan baku sebesar 5,94.

Distribusi frekuensi dari data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 8. Distribusi Frekuensi Skor Iklim Organisasi Kelas

NO

KELAS INTERVAL

FREKUENSI

FREKUENSI RELATIF

1

27 – 30

5

12,50%

2

31 – 34

14

35,00%

3

35 – 38

5

12,50%

4

39 – 42

8

20,00%

5

43 – 46

5

12,50%

6

47 – 50

3

7,50%

TOTAL

40

100%

Sebagaimana hasil perhitungan di atas, hasil pengolahan data diperoleh harga rata-rata untuk iklim organisasi kelas sebesar 36,53. Dengan demikian ternyata bahwa iklim organisasi kelas sebagai objek penelitian ini SD di Kecamatan Lebakwangi Kabupaten Kuningan rata-rata rendah. Untuk histogram skor ilim organisasi kelas adalah sebagai berikut :

f

Grafik 3. Histogram Skor Iklim Organisasi Kelas

K

Keterangan :

f = frekuensi absolut

K = kelas interval

Histogram dibuat menggunakan fasilitas Chart pada MS. Word ’97.

B. Pengujian Persyaratan Analisis Data

Karakter data penelitian akan menentukan teknik analisis data yang akan digunakan untuk membuktikan atau menguji hipotesis, oleh karena itu sebelum pelaksanaan analisis data yang menguji hipotesis dilakukan pemeriksaan atau pengujian terhadap data itu. Pengujian persyaratan analisis data yang digunakan di sini adalah uji normalitas dengan menggunakan uji Lilliefors. Kriterianya adalah sebagai berikut :

1. Tolak hipotesis nol, jika Lhitung > Ltabel yang berarti populasi tidak berdistribusi normal.

2. Terima hipotesis nol, jika Lhitung < Ltabel yang berarti populasi berdistribusi normal

1. Uji Normalitas Data Perilaku Belajar Siswa

Pengujian terhadap data perilaku belajar (Y) menghasilkan Lhitung sebesar 0,1088. Dari tabel harga kritis nilai L untuk Lilliefors dengan n = 40 dan α = 0,05 diperoleh Ltabel = 0,1401. Dengan demikian tampak bahwa Lhitung lebih kecil daripada Ltabel , yang berarti bahwa data Y berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Uji Normalitas Data Kepemimpinan Guru (X1)

Pengujian terhadap data kepemimpinan guru (X1) menghasilkan Lhitung sebesar 0,1398. Dari tabel harga kritis nilai L untuk Lilliefors dengan n = 40 dan α = 0,05 diperoleh Ltabel = 0,1401. Dengan demikian tampak bahwa Lhitung lebih kecil daripada Ltabel , yang berarti bahwa data X1 berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

3. Uji Normalitas Data Iklim Organisasi Kelas (X2)

Pengujian terhadap data Iklim Organisasi Kelas (X2) menghasilkan Lhitung sebesar 0,1386. Dari tabel harga kritis nilai L untuk Lilliefors dengan n = 40 dan α = 0,05 diperoleh Ltabel = 0,1401. Dengan demikian tampak bahwa Lhitung lebih kecil daripada Ltabel , yang berarti bahwa data X2 berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Jika hasil uji normalitas dari ketiga jenis data tersebut yaitu perilaku belajar siswa, kepemimpinan guru, dan iklim organisasi kelas disajikan kembali kecuali secara keseluruhan, maka akan diperoleh tabel hasil pengujian normalitas data sebagai berikut :

Tabel 9. Hasil Pengujian Normalitas Data

JENIS DATA

LHITUNG

LTABEL % %=0,5

KESIMPULAN

Perilaku Belajar (Y)

0,1088

0,1410

Normal

Kepemimpinan Guru (X1)

0,1398

0,1401

Normal

Iklim Organisasi (X2)

0,1386

0,1401

Normal

Tabel = Tabel nilai kritis Lilliefors

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa populasi dari semua variabel data penelitian ini yaitu perilaku belajar, kepemimpinan guru, dan iklim organisasi kelas berdistribusi normal. Dengan demikian persyaratan telah terpenuhi.

Selanjutnya untuk persyaratan bahwa bentuk-bentuk regresi adalah linear. Pengujian telah dilakukan secara bersama-sama dengan pengujian hipotesis penelitian.

C. Pengujian Hipotesis

Berikut ini akan disajikan hasil pengujian terhadap hipotesis penelitian yang diajukan yaitu sebagai berikut :

1. Hubungan antara Kepemimpinan Guru (X1) dengan Perilaku Belajar Siswa(Y)

Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara Kepemimpinan Guru (X1) dengan Perilaku Belajar Siswa (Y). Analisis regresi linear sederhana terhadap data penelitian dari perhitungan, menghasilkan koefisien arah regresi b sebesar 0,42 dan konstanta a sebesar 24,39. Dengan demikian bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut dapat disajikan oleh persamaan regresi :

Ŷ = 34,39 + 0,42 X1

Untuk mengetahui keberartian regresi, persamaan regresi tersebut selanjutnya diuji dengan menggunakan Uji F. Adapun hasilnya sebagaimana terdapat pada tabel berikut ini :

Tabel 10. Tabel Anava untuk Regresi Linear Sederhana Ŷ = 34,39 + 0,42 X1

Sumber Varian

db

JK

RJK

Fh

Ft

Total

40

115093

-

-

-

Regresi a

Regresi b

Sisa

1

1

38

112890,63

627,95

1574,42

112890,63

627,95

41,43

15,16

a.0,95 (1:38)

4,10

Tuna cocok

Galat

13

15

520,57

1053,85

40,04

42,15

0,95

a.0,95

(13:25)

2,16

Keterangan : db = derajat kebebasan

JK = jumlah kuadrat

RJK = rata-rata jumlah kuadrat

Hasil analisis varian sebagaimana yang terdapat dalam tabel tersebut, menyimpulkan bahwa persamaan regresi yang diperoleh adalah linear dan signifikan.

Analisis korelasi terhadap pasangan data dari kedua variabel tersebut, menghasilkan koefisien r product moment sebesar 0,5354. Telaah keberartian (signifikansi) terhadap angka koefisien korelasi tersebut diperoleh thitung sebesar 4,69 sedangkan untuk ttabel (0,95) (38) = 1,70. Perhitungan ini menunjukkan bahwa angka koefisien korelasi antara kepemimpinan guru dengan perilaku belajar adalah signifikan. Hal ini sekaligus menolak hipotesis nol, penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan positif antara kepemimpinan guru (X1) dengan perilaku belajar siswa (Y).

Selanjutnya, karena koefisien korelasi ry1 = 0,5354 maka diperoleh koefisien determinasinya sebesar r2 = 0,2866 yang berarti bahwa 28,66% variansi perilaku belajar dapat dijelaskan oleh kepemimpinan guru dengan perilaku belajar melalui suatu persamaan regresi :

Ŷ = 34,39 + 0,42 X1 pada X = 0,05

Koefisiesn korelasi parsial X1 dan Y yang dikontrol oleh X2 = 0,4088 signifikan karena nilai thitung = 2,7247 > ttabel = 1,68 yang berarti hubungan antara kepemimpinan guru dengan perilaku belajar siswa walaupun dikontrol oleh iklim organisasi kelas.

2. Hubungan antara Variabel Iklim Organisasi Kelas (X2) dengan Perilaku Belajar Siswa (Y)

Hipotesis kedua yang disajikan dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara Iklim Organisasi Kelas (X2) dengan Perilaku Belajar Siswa (Y). analisis regresi linear sederhana terhadap data penelitian.

Penelitian dari perhitungan menghasilkan koefisien arah regresi b sebesar 0,49 dan konstanta a sebesar 35,23. Dengan demikian bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut dapat disajikan oleh persamaan regresi :

Ŷ = 35,23 + 0,49 X2

Untuk mengetahui keberartian regresi, persamaan regresi tersebut selanjutnya diuji dengan menggunakan Uji F. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 11. Tabel Anava untuk Regresi Linear Sederhana Ŷ = 35,23 + 0,49 X2

Sumber Varian

db

JK

RJK

Fh

Ft

Total

40

115093

-

-

-

Regresi a

Regresi b

Sisa

1

1

38

112890,63

327,50

1874,87

112890,63

327,50

49,39

6,63

a.0,95 (1:38)

4,10

Tuna cocok

Galat

15

23

62570,13

64445

4171,34

2801,96

1,49

a.0,95

(15:23)

2,14

Keterangan : db = derajat kebebasan

JK = jumlah kuadrat

RJK = rata-rata jumlah kuadrat

Analisis korelasi terhadap pasangan data dari kedua variabel tersebut, menghasilkan koefisien r product moment sebesar 0,3937. Telaah keberartian (signifikansi) terhadap angka koefisien korelasi tersebut diperoleh thitung sebesar 2,52 sedangkan untuk ttabel (0,95) (38) = 1,70. Perhitungan ini menunjukkan bahwa angka koefisien korelasi antara kepemimpinan guru dengan perilaku belajar adalah signifikan. Hal ini sekaligus menolak hipotesis nol, penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan positif antara iklim organisasi kelas (X2) dengan perilaku belajar siswa (Y).

Karena koefisien korelasi ry1 = 0,3837 maka diperoleh koefisien determinasinya sebesar r2 = 0,1472 yang berarti bahwa 14,12% variansi perilaku belajar dapat dijelaskan oleh iklim organisasi kelas (X2) dengan perilaku belajar (Y) melalui suatu persamaan regresi :

Ŷ = 35,23 + 0,49 X2 pada a = 0,95

Koefisiesn korelasi parsial X2 dan Y yang dikontrol oleh X1 = 0,0652 tidak signifikan yang berarti hubungan antara iklim organisasi kelas (X2) dengan perilaku belajar siswa (Y), tidak berarti apabila kepemimpinan guru dikontrol.

3. Hubungan antara Kepemimpinan Guru (X1) dan Iklim Organisasi Kelas (X2) dengan Perilaku Belajar Siswa (Y)

Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kepemimpinan guru (X1) dan iklim organisasi kelas (X2) dengan perilaku belajar siswa (Y).

Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien korelasi ganda R sebesar 0,8159. Analisis keberartian terhadap koefisien korelasi ganda tersebut menghasilkan nilai Fhitung sebesar 41875. Dari nilai Ftabel (0,95) = 3,26 maka dengan demikian Fhitung = 41,875 > Ftabel = 3,26.

Hasil analisis tersebut menyimpulkan bahwa nilai koefisien korelasi pada R = 0,8159 yang diperoleh dalam penelitian ini ternyata sangat signifikan. Hasil perhitungan ini sekaligus menolak hipotesis nol bahwa tidak terdapat hubungan positif secara bersama-sma antara kepemimpinan guru dengan iklim organisasi kelas. Dengan koefisien korelasi ganda R sebesar 0,8159 maka koefisien determinasinya diperoleh sebesar 0,6658 yang berarti sumbangan yang diberikan secara bersama-sama oleh kedua variabel terikat adalah sekitar 66,58% melalui model regresi linear ganda :

Ŷ = -9,08 + 0,48 X1 + 1,12 X2

D. Interpretasi Hasil Penelitian

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ketiga hipotesis kerja yang diajukan dalam penelitian ini semuanya diterima, ini berarti bahwa secara umum terdapat hubungan positif antara Kepemimpinan Guru dan Iklim Organisasi Kelas serta Perilaku Belajar Siswa, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.

Untuk lebih jelasnya hasil pengujian hipotesis tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut :

Pertama, hubungan antara Kepemimpinan Guru dengan Perilaku Belajar Siswa mempunyai kekuatan hubungan sebesar 0,5354. Hubungan positif antara kedua variabel tersebut ternyata cukup berarti. Ini mengandung makna bahwa semakin tinggi kepemimpinan guru maka akan semakin tinggi pula perilaku belajar siswa.

Sumbangan yang diberikan oleh kepemimpinan guru terhadap perilaku belajar siswa adalah sekitar 28,66%, sebab koefisien determinasinya adalah sebesar 0,2866 dengan model regresi sederhana :

Ŷ = 34,39 + 0,42 X1

Kedua, mengenai hubungan antara Iklim Organisasi Kelas dengan Perilaku Belajar Siswa, tampak adanya hubungan positif antara kedua variabel tersebut yang mengandung makna bahwa semakin tinggi iklim organisasi kelas maka semakin tinggi pula perilaku belajar siswa.

Dengan kekuatan hubungan sebesar 0,3837 serta koefisien determinasinya sebesar 0,1472 maka diperoleh sekitar 14,72% varians hasil perilaku belajar siswa dipengaruhi oleh iklim organisasi kelas memberikan sumbangan sekitar 14,72% terhadap varians perilaku belajar siswa melalui model regresi linear sederhana :

Ŷ = 35,23 + 0,49 X2

Tafsiran ketiga adalah menyangkut keterkaitan antara Kepemimpinan Guru dan Iklim Organisasi Kelas secara bersama-sama sebagai variabel bebas dengan Perilaku Belajar Siswa sebagai variabel terikat. Hubungan positif antara kedua variabel bebas secara bersama-sama dengan variabel terikat mengandung arti bahwa kedudukan kedua variabel bebas tersebut sebagai predikator varians perilaku belajar tidak perlu diragukan lagi.

Dengan koefisien korelasi ganda sebesar 0,8159 dan koefisien determinasi ganda adalah sebesar 0,6658, maka sumbangan yang diberikan oleh kepemimpinan guru dan iklim organisasi kelas terhadap perilaku belajar siswa adalah 66,58% dengan model regresi linear ganda :

Ŷ = -9,08 + 0,48 X1 + 1,12 X2

Sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku belajar siswa baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal.

E. Diskusi

Penelitian ini ingin mengetahui hubungan fungsional dan derajat keterkaitan antara kepemimpinan guru, iklim organisasi kelas, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan perilaku belajar siswa.

Dari deskripsi data yang telah dianalisis ternyata menunjukkan bahwa dengan diterimanya hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan positif antara variabel bebas yaitu kepemimpinan guru dan iklim organisasi kelas, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan variabel terikat yaitu perilaku belajar siswa mengandung arti bahwa kedudukan kedua variabel bebas tersebut sangat berpengaruh terhadap perilaku belajar siswa.

Hal ini dapat dipahami karena kepemimpinan guru dan iklim organisasi kelas sangat menentukan perilaku belajar siswa.

Satu pemikiran pada “Bab 4- Hasil Penelitian

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s